Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Nam Ob3

nothing else matter

“Cara Membunuh yang Baik dan Benar”

OPINI | 30 July 2010 | 11:02 Dibaca: 503   Komentar: 0   0

“Cara membunuh yang baik dan benar” mungkin itu sebuah buku yang harus dibaca istri Aris, jika buku itu memang ada di toko buku. Aris adalah seorang buruh pabrik yang bekerja di perusahaan yang memiliki produk karton pembungkus.

Suatu malam, hampir saja Aris dibunuh oleh istrinya sendiri ketika sedang lelap tertidur. Dengan menjeratkan selendang ke leher Aris. “Untungnya tenaga saya lebih kuat dari istri saya” jelas Aris dengan wajah tersenyum.

Motif percobaan pembunuhan oleh istrinya ini tidak ada hubungannya dengan masalah rumah tangga, perselingkuhan atau sejenisnya. Istri pria berparas sunda ini sedang menjalani rawat jalan 2 tahun terakhir ini karena sakitnya yang tidak biasa.

“Gangguan saraf di kepalanya” tutur Aris menjelaskan hasil diagnosa dokter yang memeriksa kondisi istrinya itu. Jika lupa meminum obat, kesadaran istrinya hilang, menjadi seperti orang gila. Percobaan pembunuhannya itu terjadi ketika stok obat di rumah sudah habis, dan Aris sudah tidak memiliki cukup uang untuk membeli obat untuk istrinya itu, alhasil kambuhlah penyakit istrinya tersebut.

Sejak kejadian itu, pria berumur sekitar 45 tahun ini sudah tidak berani tidur seranjang lagi dengan istrinya walaupun stok obat istrinya belum habis. Percobaan pembunuhan terhadapnya masih mengganggu dirinya setiap mengakhiri hari. Menurut dokter, istrinya masih harus menjalani 1 tahun ke depan untuk rawat jalan sampai penyakitnya sembuh.

Perusahaan tempat Aris bekerja tidak menanggung biaya pengobatan istrinya. Sehingga Aris harus menanggung biaya rawat jalannya plus obatnya dari kantongnya sendiri. Obatnya saja sudah menghabiskan hampir ¼ pendapatannya 1 bulan yang hanya Rp. 1.000.000,-. Jelas saja permintaan anak pertamanya untuk meneruskan ke perguruan tinggi tidak bisa dia penuhi.

Selain untuk pengobatan istrinya, Aris juga harus menanggung biaya sekolah 2 anak lagi yang masih bersekolah di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah. Untunglah anaknya yang pertama sudah lulus STM informatika di daerah Bogor dan sudah bekerja sehingga biaya untuk keluarga menjadi lebih ringan. Dengan pendapatan yang tergolong kecil itu, Wajar saja Aris hanya mampu menghabiskan waktu liburnya untuk memancing di danau umum. “Kalau memancing di empang, harus bayar” ujarnya.

Memancing adalah satu satunya pelarian Aris untuk sejenak lepas dari beban hidupnya. Walaupun Aris hanya mendapatkan libur 1 hari dalam 1 minggu, Aris selalu menyempatkan diri untuk menyalurkan hobinya ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 10 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 11 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 14 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: