Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Median Editya

penyuka beladiri dan sastra. calon guru teknik yang dicemplungin NASIB ke dunia perbankan..well, life always selengkapnya

Fakir Miskin dan Anak Terlantar Dipelihara Oleh “KITA”!

REP | 25 September 2010 | 01:57 Dibaca: 777   Komentar: 26   3

Tahukah anda kalau menurut data BPS, jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan pada tahun 2010 ini diperkirakan mencapai 31,02 juta jiwa. Berdasarkan angka-angka itu, bisakah saya minta tolong kepada anda untuk membayangkan beberapa hal?

Bayangkan berapa banyak orang-orang tua yang terpaksa hidup menggelandang dijalanan?

Gambar diunduh dari tabloidsensor.blogspot.com

Gambar diunduh dari tabloidsensor.blogspot.com

Bayangkan berapa banyak anak-anak yang terpaksa memulung, mengamen, mengemis di jalanan?

diunduh dari pudingluverswordpresscom

diunduh dari pudingluverswordpresscom

Bayangkan berapa banyak keluarga yang terpaksa hidup prihatin memungut sisa-sisa makanan di tumpukan sampah?

gambar diunduh dari detikfinance.com

gambar diunduh dari detikfinance.com

Saya tiba-tiba teringat satu pasal yang menyatakan bahwa “-fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara-.”

Dan izinkan saya kali ini bertanya kepada anda semua, apakah kita selaku masyarakat bukan merupakan bagian dari negara? Apakah menjaga mereka yang papa hanyalah tugas para pejabat pemerintah? Apakah menjaga anak-anak yang tiap malam menggigil dingin tidur di emperan toko adalah tugas dinas sosial saja? Apakah menjaga para yatim dan orang-orang jompo hanyalah tugas badan zakat, panti asuhan, LSM, dan organisasi sosial lainnya? Tugas “Negara”, bukan sama sekali tugas kita?

Hari ini sepagi ini saya terpekur melihat sesosok anak laki-laki kecil yang duduk takzim di emperan toko kota bandung. Tanpa celana “mempertontonkan” alat kemaluannya yang tak sempurna, “mengumbar” perut yang ditempelkan plastik tempat kotoran keluar dari ususnya (maaf tak bisa saya memberikan fotonya, tak tega saya memfotonya saat itu). Gusti, miris sekali saya melihatnya. Nyaris menangis saya dibuatnya. Apakah kita akan “membiarkan” terus orang-orang seperti anak ini menggantungkan hidupnya dari mengemis? Tak bisakah kita semua membantu untuk memberikan janji kehidupan yang lebih baik?

Sudahkah kita semua menjaga orang-orang seperti mereka? Memberikan apa yang kita bisa demi menolong orang-orang yang membutuhkannya? Atau kah kita hanya terbiasa mengatakan tugas “negara-”lah untuk menjaga fakir miskin, anak terlantar, dan orang-orang papa? Begitu enggan untuk bersedekah walaupun hanya uang receh saja, begitu malas melibatkan diri dalam kegiatan sosial disekitar kita, begitu jijik dekat-dekat mereka yang sering dianggap jorok badannya. Ah, pertanyaan-pertanyaan saya, anda pribadilah yang bisa menjawabnya.

———————————–

Selama 2 minggu kedepan, tulisan-tulisan berikut ini akan meramaikan lapak tulisan saya.

@kong ragile                           Ini Akun Siluman Saya, Mana Akun Siluman Anda?

@mbak della anna                   Manusia “pengeluh”

@Bang astoko datu                 Beras bersubsidi, siapa yang beri subsidi?

@Bang irsyam syam                Doktor dan Dokter, Sama-sama Inkonsisten

@Bang sukmono rihawanto    Sandal Bandhol Menendang ACFTA

@Bang Widianto H Didiet       2 Milyar 700 Juta Rupiah, Mau?

@Bang Ibay Benz Eduard        Indahnya Persahabatan, Indahnya Toleransi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Susahnya Mencari Sehat …

M.dahlan Abubakar | | 30 August 2014 | 16:43

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | | 30 August 2014 | 18:30

Negatif-Positif Perekrutan CPNS Satu Pintu …

Cucum Suminar | | 30 August 2014 | 17:13

Rakyat Bayar Pemerintah untuk Sejahterakan …

Ashwin Pulungan | | 30 August 2014 | 15:24

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22



Subscribe and Follow Kompasiana: