Artikel

Unik

Prasetyo Sampurno

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Hidup adalah saling terhubung dan berbagi...... sehingga memperbanyak teman yang tulus hati adalah cara yang paling tepat agar hidup mengalir tanpa sumbatan ......

Kebebasan Jurnalistik Bukan Kebebasan Informasi - Kasus Wikileaks


HL | 09 December 2010 | 00:19 Dibaca: 603   Komentar: 9   Nihil

12918283101591845476

Sumber foto: www.facebook.com/wikileaks

Bahkan Negara Amerika Serikat yang menganut sistem kebebasan jurnalistik sangat kerepotan saat menghadapi bocornya informasi yang merupakan rahasia dapurnya,  tersebar bebas di dunia maya. Walaupun sudah di blokir ternyata ada situs replikasinya yang jumlahnya melebihi 500 situs.

Fans Wikileaks di Face Book sudah melebihi 1 juta fans. Hanya Face Book yang tidak menutup account Wikileaks. Sementara Paypal, Amzon dan Mastercard telah menyatakan bahwa transaksi dengan Wikileaks adalah illegal. Pendiri Wikileaks Julian Assange saat ini nyawanya terancam. Sebagian besar Pemerintahan adikuasa di dunia menganggapnya Teroris. Padahal justeru ia memberikan informasi tentang beberapa kekejaman tentara Amerika di Afganistan, Irak, juga komunikasi diplomatik yang bersubstansi kecurangan politik. Saat ini ia di tangkap karena tuduhan kriminal pemerkosaan.

Pihak berwenang Amerika berargumentasi bahwa Wikileaks bukan merupakan suatu karya genius melainkan hanya keahlian hacking kepada dokumen-dokumen yang bersubstansi politik dan menganggapnya sebagai tindakan illegal bahkan penuduhan kepada terorisme. Sementara pihak lain seperti John Pilger dari The New Statement menyatakan bahwa munculnya Wikileaks membuat dominasi jurnalistik di permalukan. Gambar Jurnalistik di negara yang menganut kebebasan pers saat ini dilihat secara sinis karena memberitakan apa yang penguasa katakan. Joh Pilger mengatakan bahwa ternyata Jurnalisme dunia maju adalah stenografi pemerintah bukan jurnalistik yang berazaskan pers freedom.

Bila kita lihat di Indonesia, misalnya kasus Gayus, kita bisa lihat tidak independentnya industri jurnalistik. Metro Tv gencar menyiarkan persidangan Gayus  sementara TV One  menyiarkan sedikit saja. Kita bisa melihat peranan politisi di belakang jurnalistik tersebut. Belum kasus Krakatau Steel dimana beberapa wartawan dari surat kabar terkemuka di laporkan memeras emiten.

Freedom Jurnalistik memang bukan kebebasan informasi. Freedom Jurnalistik adalah penyajian informasi yang bertanggung jawab untuk mengungkapkan kebenaran. Informasi yang tidak berdasarkan kebenaran harusnya tidak di ungkapkan. Bedanya kita dengan Amerika. Di Amerika,  informasinya tersembunyi sehingga secara tidak sadar para jurnalis profesional di giring untuk menjadi stenografi pemerintah. Sementara di negara kita  informasi yang beredar banyak yang ngawur sehingga dinamakan kebebabasan pers  yang kebablasan bukan kebenaran informasi.

Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita. Bagi Pemerintah jangan mendikte jurnalistik sementara para jurnalis harus menggali informasi dengan bertanggung jawab dengan meningkatkan keahlian penggalian informasi dan rajin tidak ambil gampangnya saja tidak cek kebenaran informasinya.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: