Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Julian Howay

Jurnalist dan pemerhati sosial

Keunikan Species Baru di Pegunungan Foja Mamberamo Papua

REP | 19 April 2011 | 09:43 Dibaca: 1386   Komentar: 5   14

Species unik kanguru mantel emas (Dendrolagus pulcherrimus)

Species unik kanguru mantel emas (Dendrolagus pulcherrimus)

Katak unik berhidung pinokio (Litoria sp nov)

Katak unik berhidung pinokio (Litoria sp nov)

Ekspedisi November 2008 lalu telah berhasil menemukan sederet species baru di kawasan hutan yang sebagian besarnya masih perawan. Pegunungan Mamberamo Foja Papua, ibarat surga bagi beragam species baru yang belum teridentifikasi.

Jauh di dalam hutan lebat pada kawasan paling terisolir di pegunungan Foja Mamberamo Papua. Beberapa peneliti nekat mendirikan kamp untuk memulai suatu ekspedisi kala itu. Rumitnya medan membuat para peneliti tertantang melakukan suatu ekspedisi ilmiah yang penuh resiko di kawasan ini, November 2008 lalu. Para peneliti tak tanggung-tanggung menerobos hutan lebat, menuruni lembah dan mendaki perbukitan untuk mengumpulkan beragam spesimen. Hujan deras yang setiap hari menguyur kawasan yang memiliki titik tertinggi 2.193 meter ini juga menyebabkan banji bandang dan lumpur di sekitar area kamp mereka.

Bukan hanya itu, setiap hari para peneliti pun harus tegar menahan gigitan nyamuk dan lintah darat. Belum lagi dengan ancaman gigitan ular berbisa yang sewaktu-waktu dapat merenggut nyawa di tengah hutan liar ini. Kondisi demikian lantas menjadi tantangan terberat bagi para peneliti. Namun upaya sekelompok peneliti ini untuk menemukan adanya spesies baru tidak sia-sia. Di penghujung hari-hari survei yang sangat melelahkan, para peneliti yang tergabung dalam ekspedisi bertajuk Rapid Assessment Program (RAP) Conservation International (CI), berhasil mengidentifikasi sederet temuan spektakuler untuk dunia pengetahuan. Berawal dari seorang ahli reptil dan amfibi (herpetolog) bernama Paul Oliver asal Australia, secara kebetulan bertumbukan dengan seekor katak yang hidungnya sangat aneh. Katak itu duduk di atas kantong beras mereka di dalam kamp.

Spesies amfibi yang dilihat Oliver itu bila mengeluarkan suara, muncul benjolan panjang yang mengarah keatas di hidung katak. Tapi jika katak itu berhenti bersuara, hidungnya mengempis ke bawah. “Kami sedang kumpul untuk makan siang, Oliver memandangi seekor katak mungil duduk di atas karung beras dan ia memberanikan diri menangkapnya,” kenang Chris Milensky, ahli burung (ornitolog) yang juga ikut dalam ekspedisi itu. Chris mengakui rekannya Paul punya refleks bagus saat menangkap katak itu. Sebagai seorang herpetolog yang berpengalaman, Paul bisa memastikan bahwa katak yang ditangkapnya belum terwakili dalam jenis katak hidung panjang. Spesies amfibi itu lalu dijuluki jenis “katak pinokio,” oleh peneliti.

Mungkin karena hidungnya mirip “pinokio,” sosok manusia kayu yang terbuat dari kayu pohon pinus dalam cerita film pinokio. Para peneliti lalu melabeli katak berhidung pinokio itu dengan nama latin, Litoria sp nov. Dalam ekspedisi di gunung Foja, Oliver juga sempat melompat ke atas pohon untuk menangkap seekor tokek. Salah satu spesies lain yang juga memikat para peneliti adalah Kangguru pohon mantel emas (Dendrolagus pulcherrimus). Meski telah ditemukan tahun 2005, kangguru berwarna keemasan ini sangat langka dan hidup di pohon. Kejutan lain juga terjadi ketika seorang ahli burung (ornitolog) yang juga manajer CI Indonesia bernama Neville Jems Kemp, melihat sepasang merpati kaisar yang baru (Ducula sp nov). Merpati ini punya tiga warna bulu, yakni merah agak berkarat, putih, dan abu-abu.

Para peneliti lain juga melaporkan sederet temuan spesies baru. Temuan itu antara lain, kelelawar kembang baru (Syconycteris sp. nov), walabi kerdil (Dorcopsulus sp. nov), tikus pohon kecil (Pogonomys sp. nov), kupu-kupu berwarna hitam putih (Ideopsis fojona) yang memiliki hubungan dengan jenis kupu-kupu raja pada umumnya, dan semak belukar berbunga yang baru (Ardisia hymenandroides). Menurut Neville Kemp, gunung Foja tidak pernah di survei sebelumnya oleh para peneliti. Kegiatan survei untuk pertama kali baru dilakukan Desember 2005. Saat itu sejumlah tim peneliti dari CI bekerja sama dengan LIPI, Universitas Harvard, Uncen, staf Australian Museum dan Adelaide University, dengan dibantu masyarakat lokal, dinas kehutanan dan BKSDA, telah melakukan eskpedisi di wilayah ini.

Tim ini telah berhasil mengidentifikasi beragam spesies yang benar-benar baru. Sejumlah spesies itu seperti, burung pengisap madu (Meliphagidae) yang merupakan penemuan spesies burung baru di New Guinea selama 70 tahun terakhir. Penemuan kembali burung cenderawasih Parotia berlepschi. Termasuk 20 spesies katak baru dan katak kecil (ukuran tubuh 14 mm), lima jenis palem, empat jenis tumbuhan berkayu yang baru, lima jenis kupu-kupu baru, 2 jenis burung (termasuk jenis burung penghisap madu) dan beberapa mamalia baru. Salah satu diantara mamalia baru itu adalah kangguru pohon mantel emas ((Dendrolagus pulcherrimus). Para peneliti juga menemukan satu posum baru dan satu tikus raksasa yang beratnya sekitar 1,7 kilogram dan panjang 50 centimeter. Spesies ini memiliki ciri khas berbulu tebal dan berwarna abu-abu. Ekornya panjang dan ujungnya putih tidak memiliki bulu.

Tadinya kangguru pohon jenis ini hanya ditemukan di Papua New Guinea (PNG). Kangguru pohon ini merupakan mamalia jenis baru di Indonesia. Bedanya dengan kangguru biasa, Kangguru jenis ini hidup di atas pohon, memakan dedaunan muda dan memanjat hingga ke puncak pohon. Setelah makan daun, hewan ini bisa turun lagi lalu memanjat kembali mencari daun yang disukai. Bentuknya mirp kangguru biasa, tapi tangan depannya lebih kokoh karena digunakan untuk memanjat pohon. Ekspedisi lanjutan pada Juni 2007 juga menemukan 2 spesies mamalia baru, yaitu possum Cercartetus pygmy dan tikus raksasa Mallomys. Temuan-temuan itu memang sangat spektakuler bagi ilmu pengetahuan, terutama dalam ilmu biologi. “Hampir semua mamalia dan burung yang dilindungi di dunia, juga Pemerintah Indonesia, terdapat di kawasan ini,” ujar Hari Sutrisno, ketua tim peneliti pusat penelitian biologi yang juga ornitolog LIPI.

Dalam ekspedisi Novermber 2008, Hari berhasil mengumpulkan sekitar 300 sampel spesies kupu-kupu malam dari areal seluas 5 hektar. Menurutnya, spesies baru yang ditemukan di kawasan pegunungan Mamberamo Foja sebagai hotspot keragaman hayati Indonesia. Ia beruntung, bisa ikut terlibat dalam ekspedisi ke Foja karena kesempatan ke wilayah ini memang langka. Sejauh ini keanekaragaman hayati di kawasan ini juga belum banyak terungkap karena jarang dilakukan ekspedisi ilmiah. Lagi pula pendanaan riset ke luar Jawa masih relatif mahal. Misalnya, untuk sewa helikopter ke puncak Foja saja biayanya sekitar US$ 3,000 per jam (sekitar 27 juta dengan kurs 9000 rupiah per dolar AS). “Ini akan sulit jika hanya mengandalkan uang riset dari Pemerintah Indonesia,” kata Hari.

Belum lagi soal prioritas eksplorasi keragaman hayati berbasis “science” yang biayanya juga sangat minim. Padahal, dengan rutinnya ekspedisi, ada kemungkinan besar ditemukan sejumlah spesies baru yang bisa menambah referensi ilmiah. Dalam ekspedisi Rapid Assessment Program (RAP), Conservation International (CI) yang berlangsung sepanjang November 2008 lalu, selain melibatkan peneliti Papua, LIPI dan masyarakat lokal, juga ikut beberapa peneliti internasional. Mereka terdiri dari berbagai ahli seperti, peneliti reptil dan amfibi (herpetolog), peneliti serangga (entomolog), peneliti burung (ornitolog) dan beberapa peneliti lainnya. Peneliti Indonesia dari LIPI yang ikut dalam ekspedisi itu antara lain, Asep Sadeli (peneliti ekologi tumbuhan), Suparno (ahli burung), Martua Sinaga (ahli mamalia), dan seorang botanis lain.

Sisanya peneliti dari Universitas Cenderawasih, perwakilan suara serangga Papua, peneliti dari The National Geographic Society dan Smithsonian Institution. Ekspedisi yang telah dilakukan dua tahun lalu (2008) ini, hasilnya telah diumumkan secara resmi di Washington AS, 17 Mei 2010 lalu. Pengumuman itu menandai peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia (International Day for Biological Diversity), 22 Mei tahun 2010 yang ditetapkan PBB sebagai Tahun Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Year). Hasil temuan itu telah menambah daftar spesies baru yang pernah ditemukan di pegunungan Foja, sebuah kawasan suaka marga satwa dengan luas 1.442.500 hektar.

Namun masalah kedepan yang harus diantisipasi adalah bagaimana mengatasi ancaman terhadap keanekaragaman hayati di kawasan ini. Sebab ancaman yang muncul itu kini berupa aktivitas penebangan kayu (hutan), perladangan berpindah hingga pembukaan lahan untuk indusri agro forestry berupa kelapa sawit berskala besar. Belum lagi ancaman dalam bentuk pembangunan infrastruktur yang dapat mengancam keberadaan sejumlah spesies langka. Karena itu, perlindungan kawasan merupakan suatu keharusan. Pemerintah daerah sebagai penentu kebijakan kawasan, sudah sepantasnya memahami berbagai temuan eksplorasi keragaman hayati sebagai aset berharga yang patut dilindungi.

Di lain pihak, upaya konservasi diharapkan tidak bertentangan dengan rencana pembangunan dan usaha mengejar pendapatan asli daerah (PAD). Dari sejumlah temuan di Foja, sesungguhnya Pemerintah bisa memahami bahwa pemanfaatan sejumlah kawasan di Tanah Papua tak semuanya cocok untuk pertambangan dan eksploitasi kayu. Direktur WWF Region Sahul Papua, Benja Victor Mambay nengatakan hutan Papua memiliki nilai konservasi yang sangat tinggi. Dengan alasan ini perlu dibuat rencana tata ruang berkelanjutan yang sesuai peruntukannya. “Ini untuk melindungi nilai ekologi, sosial, dan budaya Tanah Papua,” kata Mambay. Itu kalau Pemerintah Daerah dan masyarakat di Tanah Papua masih kepingin melihat sejumlah spesies langka mereka tetap hidup lestari di habitatnya. (Julian Howay)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Tinggal Banjir, Proyek Revitalisasi …

Agung Han | | 30 October 2014 | 21:02

Elia Massa Manik Si Manager 1 Triliun …

Analgin Ginting | | 30 October 2014 | 13:56

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Bau Busuk Dibelakang Borneo FC …

Hery | | 30 October 2014 | 19:59

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 5 jam lalu

Saat Tukang Sate Satukan Para Pendusta …

Ardi Winata Tobing | 6 jam lalu

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 9 jam lalu

Soal Pengumuman Kenaikan Harga BBM, …

Gatot Swandito | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika PBR Merangsek ke Semifinal ISL 2014 …

Bahrur Ra | 9 jam lalu

Wasit Pertandingan Semen Padang vs Arema …

Binball Senior | 10 jam lalu

Ihwal Pornografi dan Debat Kusir Sesudahnya …

Sugiyanto Hadi | 11 jam lalu

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 12 jam lalu

Saat Tak Lagi Harus ke Kebun …

Mohamad Nurfahmi Bu... | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: