Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Kemerdekaan Republik Indonesia

REP | 28 August 2011 | 10:26 Dibaca: 2833   Komentar: 0   0

Sejak 1945, 17 Agustus menjadi hari yang sakral bagi bangsa Indonesia. Tiap tahun ia dirayakan dengan semangat kemenangan dan kemerdekaan. Tapi pernahkah kita melihatnya secara kritis? Bila kita jeli terhadap sejarah kemerdekaan, kita akan segera menyadari bahwa tanggal 17 Agustus 1945 adalah sebuah perpaduan momentum yang unik yang didukung oleh anteseden-anteseden yang juga unik. Kita tahu bahwa di setiap jengkal wilayah Republik Indonesia terjadi perjuangan fisik melawan penjajah yang memakan banyak korban. Tapi jangan lupa bahwa perjuangan yang menentukan sebenarnya justru perjuangan politik para pejuang dalam memanfaatkan momen yang menguntungkan, prakondisi bagi terlaksananya Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah salah satu contohnya.

Proklamasi 17 Agustus 1945

Berawal dari ribut-ribut mengenai daerah jajahan antara Sekutu, Belanda dan Jepang. Sutan Syahrir yang sudah memulai pergerakan di bawah permukaan bersama sejumlah mahasiswa dan partisan muda lainnya menebak bahwa ribut-ribut di atas permukaan tidak mungkin dimenangkan oleh Jepang lantaran posisinya yang sedang dalam keadaan terdesak. Siasat Syahrir ketika itu adalah mempersiapkan kekuatan untuk merebut kekuasaan dari Jepang yang kebetulan sedang mendapat giliran menjajah Indonesia. Di saat yang sama Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia. Dari lokasi persembunyiannya Syahrir mengamati siaran-siaran radio internasional dari suatu tempat. Saat itu, saluran radio tanah air disegel Jepang agar tidak bisa menerima berita luar.

Syahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 5 Maret 1909. Syahrir dipercayai oleh Bung Karno menjadi Perdana Menteri pertama Republik Indonesia ketika usianya 36 tahun. Syahrir praktis menjadi Perdana Menteri termuda di dunia. Agaknya Bung Karno tahu benar siapa Sutan Syahrir ini dan bagaimana sepak terjangnya. Bung Karno dan Sutan Syahrir bak pemimpin dalam dua dimensi berbeda yang saling berhubungan. Keduanya saling membantu dalam mencapai kemerdekaan. Bung Karno tahu dirinya bukan apa-apa tanpa Syahrir. Gelombang revolusi yang digelorakan Bung Karno misalnya, haruslah ia dikendalikan dan orang yang memiliki siasat untuk perkara tersebut adalah Syahrir karena bilamana gelombang kekuatan tersebut tidak dibendung untuk diarahkan secara benar, maka energi itu justru berakibat destruktif. Sebagaimana pernyataan Bung Hatta bahwa revolusi mesti dikendalikan dan tak mungkin ia berjalan terlalu lama,  revolusi yang mengguncang ’sendi’ dan ‘pasak’ masyarakat bila tak dikendalikan maka akan merusak seluruh ‘bangunan’. Sebaliknya Syahrir mengakui Bung Karno lah pemersatu rakyat Indonesia karena agitasinya yang menggelora.

Dimulai dari pengeboman atas kota Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945 oleh pasukan Amerika Serikat, semangat tentara Jepang di seluruh daerah jajahan menurun. Sementara itu dari tempat persembunyiannya, Syahrir mendengar kabar bahwa Jepang telah menyerah pada sekutu. Momen ini menurut Syahrir adalah kesempatan untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Langkah awal dilakukan golongan muda yang dipimpin Syahrir di bawah tanah dengan mendesak Bung Karno agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, namun golongan tua termasuk Soekarno dan M. Hatta tidak ingin tergesa-gesa karena menganggap proklamasi saat itu dapat berakibat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Konsultasi pun akan dilakukan golongan tua dalam rapat PPKI padahal golongan muda menentang adanya PPKI karena menganggap bahwa forum tersebut adalah bentukan Jepang sehingga akan memberikan kesan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan ‘pemberian’ dari jepang.

Peristiwa Rengasdengklok pun terjadi. Saat dini hari tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok secara diam-diam oleh kaum pejuang muda. Tujuannya agar Soekarno dan Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Rapat PPKI oleh golongan tua pun dibatalkan karena mendapati Soekarno dan Hatta tidak ada. Di Rengasdengklok, mereka kembali meyakinkan kepada Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan mereka siap melawan Jepang apapun resikonya.

Sementara itu di Jakarta, terjadi perundingan antara golongan tua dan golongan muda. Golongan tua diwakili oleh Mr. Ahmad Soebarjo dan golongan muda diwakili oleh Wikana. Akhirnya Mr. Ahmad Soebarjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Soekarno dan Hatta pun dijemput kembali ke Jakarta. Malam harinya di rumah Laksamana Maeda, Soekarno, M. Hatta, Ahmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik menyusun teks proklamasi. Soekarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Pagi harinya, tepat jam 10 acara dimulai dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor. Indonesia secara de jure pun menyatakan kemerdekaannya, tapi secara de facto Indonesia belum merdeka.

Proklamasi 30 Juni 1949

Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia belum bisa dikatakan merdeka lantaran masih menerima ancaman dari penjajah. Diawali dengan pendaratan sekutu yang dibonceng NICA ke Indonesia, aksi-aksi perlawanan dari pejuang Indonesia tak terelakkan dalam mempertahankan kemerdekaan republik seperti Pertempuran Surabaya, Pertempuran Lima Hari di Semarang, Pertempuran Ambarawa, Pertempuran Medan Area, Bandung Lautan Api dan pertempuran lainnya di berbagai tempat di tanah air namun yang paling terkenal di telinga masyarakat adalah pertempuran 10 November di Surabaya. Banyak korban berguguran entah dari pihak pejuang republik atau penjajah.

Namun perjuangan eksistensial pasca proklamasi yang menentukan keberlanjutan eksistensi Pemerintah Republik Indonesia terjadi di Yogyakarta. Selama masa Pemerintahan RI di Yogyakarta, perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan memasuki tahap yang paling menentukan. Yogyakarta yang saat itu telah memiliki sistem pemerintahan yang rapi dan telah mendapat pengakuan dari Belanda menjadi satu-satunya pilihan aman untuk melangsungkan eksistensi republik yang masih bayi merah tidak berdaya ini dan memeliharanya dari serbuan penjajah. Sultan yang menjadi pusat kendali mutlak bagi segenap rakyat Yogyakarta pun tidak berani diotak-atik militer Belanda karena mendapat ultimatum dari Ratu Juliana yang tidak mengizinkan siapapun menyentuh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Ini menjadi perhitungan sendiri bagi militer Belanda ketika ingin melakukan agresi ke Yogyakarta yang merupakan wilayah kekuasaan Sri Sultan. Lagipula, menurut Soekarno, Yogyakarta adalah daerah yang paling siap secara politik dan ekonomi untuk dijadikan ibukota.

Ibukota negara ibarat simbol, ketika ia terjajah maka seluruh wilayah negara tersebut secara resmi dinyatakan jatuh ke tangan penjajah. Saat ibukota Jakarta dinyatakan tidak aman tatkala pasukan Sekutu dan NICA datang, keadaan ibukota kacau balau. Syahrir sendiri pernah merasakan mobilnya diberondong peluru. Hampir tiap malam Soekarno berpindah tempat untuk tidur dan bahkan Soekarno sering tidur di kolong tempat tidur. Pemerintahan praktis tidak efektif. Tan Malaka sendiri menganjurkan agar pemerintahan Republik menyingkir dari Jakarta ke pedalaman. Tapi pedalaman mana yang bisa dikendalikan.

Hatta pun menjawab “Yogyakarta adalah tempat yang tepat, karena di wilayah sana semua rakyatnya dikendalikan oleh Sultan hanya saja apakah Sultan akan menjamin kita” mendengar ucapan Hatta, Soekarno memerintahkan stafnya untuk menghubungi Sri Sultan. Dalam pembicaraan tidak resmi ditelepon, Sri Sultan berkata ”Saya Sultan Yogya, Sabdo Pandhito Ratu. Menjamin bahwa Pemerintahan Republik Indonesia aman di Yogyakarta” Jaminan Sri Sultan inilah yang dijadikan titik paling penting keberadaan Republik Indonesia ditengah ancaman serbuan pasukan bersenjata Belanda. Keberangkatan Presiden dan Wakil Presiden dengan Kereta Luar Biasa pada tanggal 4 Januari 1946 menandai perpindahan ibukota Republik dari Jakarta ke Yogyakarta sementara Syahrir ditinggal di Jakarta untuk urusan diplomasi.

Ketika Belanda mengetahui bahwa ibukota republik pindah ke Yogyakarta, mereka bingung dan karena tidak berani melancarkan aksi militer terhadap Yogyakarta, maka mereka membuat sebuah penawaran kepada Sultan yaitu menjanjikan Sri Sultan sejumlah kekuasaan dan kekayaan yang menggiurkan asalkan Sultan bersedia menyerahkan Pemerintahan Republik Indonesia kepada Belanda. Namun yang ada Belanda malah dibuat frustasi akibat Sultan bersikeras tetap berada pada posisi mempertahankan Republik Indonesia.

Pada akhir 1948, tak punya pilihan, Belanda melancarkan serangan licik ke Yogyakarta. Awalnya Belanda mengadakan kerjasama berupa latihan militer bersama TNI sebagai bentuk gencatan senjata. Tapi kemudian, pasukan Van Langen malah bergerak dari Semarang menerobos Yogyakarta dengan operasi Kraai. Sepuluh ribu penerjun payung juga memenuhi langit Maguwo. Lapangan terbang Maguwo dihujani bom dan tembakan mitraliur oleh 5 pesawat Mustang dan 9 pesawat Kittyhawk. Pertahanan TNI di Maguwo hanya terdiri dari 150 orang pasukan pertahanan pangkalan udara dengan persenjataan yang sangat minim, yaitu beberapa senapan dan satu senapan anti pesawat 12,7. Yogyakarta diserbu tanpa persiapan dan akhirnya dikuasai. Belanda menamakan aksinya ini sebagai “Aksi Polisional”. Di tingkat internasional, Belanda menyebarkan propaganda bahwa Pemerintah RI sudah tidak ada lagi. Presiden dan Wakil Presiden sebagai simbol negara diasingkan. Namun Pemerintahan Darurat RI berhasil dibentuk di Sumatera.

Kurang lebih satu bulan setelah aksi polisional Belanda, TNI merancang strategi untuk melakukan serangan balik terhadap Belanda di Yogyakarta yang dimulai dengan memutuskan telepon, merusak jalan kereta api, menyerang konvoi Belanda, serta tindakan sabotase lainnya di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Tujuan utama serangan adalah untuk meyakinkan dunia internasional bahwa TNI masih kuat. Maka serangan haruslah diketahui UNCI (United Nations Commission for Indonesia) dan para wartawan asing yang mendiami Hotel Merdeka. Untuk rencana tersebut, dicarikanlah beberapa pemuda berbadan tinggi dan tegap, yang lancar berbahasa Inggris, Belanda dan Prancis dan akan dilengkapi dengan seragam TNI dan diperintahkan untuk menemui para wartawan asing demi memberitahukan perihal serangan tersebut. Dalam perencanaan serangan besar itu, pejabat-pejabat sipil turut terlibat.

Serangan tersebut atas inisiatif Sri Sultan setelah mendengar dari radio bahwa PBB akan menggelar sidang yang membahas Indonesia. Saat itu, yang memiliki akses saluran radio hanya Sultan. Disitu Sultan ingin membuat kejutan kepada masyarakat internasional lewat SU 1 Maret bahwa akan ada serangan dari TNI terhadap Belanda yang otomatis menyatakan bahwa RI masih kuat. Serbuan didatangkan dari berbagai arah menuju pusat kota Yogyakarta. Dan saat itu diperkirakan bahwa Belanda akan medatangkan bantuan dari kantong-kantong militernya yang kuat yakni Magelang, Semarang dan Solo ketika mengetahui bahwa mereka diserang. Maka sebagian personel dari Divisi III (Divisi yang bertugas menyerang Yogyakarta) ditugaskan untuk menghambat kedatangan pasukan bantuan Belanda dari arah Semarang dan Magelang, sementara Divisi II ditugaskan untuk menghambat militer Belanda dari arah Solo.

Serangan pun dilancarkan tepat pada tanggal 1 Maret 1949 pukul 06.00 pagi saat sirene yang menandakan dimulainya serangan meraung-raung. Masyarakat internasional dikejutkan oleh serangan besar tersebut karena mengira bahwa sebelumnya Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda dengan mudah lantaran TNI tidak ada atau tidak kuat. Mr. Alexander Andries Maramis, yang berkedudukan di New Delhi menggambarkan betapa gembiranya mereka mendengar siaran radio yang ditangkap dari Burma, mengenai serangan besar-besaran TNI terhadap Belanda. Berita tersebut menjadi Headlines di berbagai media cetak yang terbit di India. Setelah kejadian tersebut, Indonesia memiliki argumentasi kuat yang mendukung bahwa Kekuatan TNI masih bisa diandalkan dan Indonesia berhasil mempermalukan Belanda yang mengklaim bahwa RI sangat lemah.

Tak lama setelah Serangan Umum 1 Maret terjadi Serangan Umum Surakarta yang menjadi salah satu keberhasilan pejuang RI yang paling gemilang karena membuktikan kepada Belanda, bahwa gerilya bukan saja mampu melakukan penyergapan atau sabotase, tetapi juga mampu melakukan serangan secara frontal ke tengah kota Solo yang dipertahankan dengan pasukan kavelerie, persenjataan berat - artileri, pasukan infantri dan komando yang tangguh. Dukungan internasional terhadap Indonesia pun mengalir dan Belanda kalah suara di PBB.  Tanggal 29 Juni 1949, Belanda secara resmi terusir dari Yogyakarta yang menjadi ibukota Indonesia dan dengan demikian maka Indonesia secara praktis telah terbebas dari Belanda.

Tanggal 30 Juni 1949, ibukota Indonesia yakni Yogyakarta benar-benar bebas dari pengaruh Belanda. Maka untuk itu dibuatlah Proklamasi 30 Juni 1949 yang menyatakan kembalinya kekuasaan RI ke tangan Pemerintah Republik Indonesia yaitu di ibukota Yogyakarta. Maka Indonesia saat itu benar-benar merdeka secara de jure maupun de facto.

Substansi Kemerdekaan

Proklamasi kedua NKRI yaitu pada tanggal 30 Juni 1949 merupakan simbol didapatkannya kemerdekaan secara utuh. Sementara Proklamasi 17 Agustus 1945 bukan lahir dalam keadaan formal maupun fakta melainkan hanya pernyataan kemerdekaannya yang mengambil momentum perginya Jepang dari tanah air yang dijemput armada Sekutu. Namun demikian, proklamasi pada 17 Agustus 1945 bukanlah proklamasi semu belaka karena dengan pernyataan tersebut, terintegrasilah semangat seluruh pejuang di tanah air untuk memperjuangkan kemerdekaan. Maka puncak kemerdekaan tersebut adalah sebagaimana dinyatakan pada tanggal 30 Juni 1949 namun sayangnya, proklamasi tanggal 30 Juni ini jarang sekali diungkap.

Namun kini, setelah puluhan tahun Indonesia menyatakan kemerdekaannya, muncul sebuah fakta yang menggelitik. Kolonialisme mentransformasikan wujudnya dari bentuk fisik menjadi bentuk yang lebih bisa diterima entah itu kebijakan, politik dan sebagainya lewat tangan para pemegang kebijakan negeri ini. Melihat kenyataan ini maka penulis menyatakan bahwa perjuangan merebut kemerdekaan belumlah usai dan perjuangan tersebut membutuhkan wujud baru juga untuk menghambat kolonialisme gaya baru ini. Kita perlu melancarkan “serangan umum” bagi kekuatan kolonialisme baru sehingga kemerdekaan benar-benar menjadi milik kita. Setelah benar-benar merdeka, mari kita nyatakan proklamasi lagi.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Istiwak, Jam Kuno di Kota Solo …

Agoeng Widodo | | 23 September 2014 | 11:20

Perang Mulut di Talkshow TV (Mestinya) Cuma …

Arief Firhanusa | | 23 September 2014 | 11:04

Mempertanyakan Kebenaran Cerita Masril Koto …

Faizah Fauzan | | 19 September 2014 | 21:17

Buku Agama dan Kolonialisasi Bahasa …

Adian Saputra | | 23 September 2014 | 11:21

[Studio Attack] Mau Lihat Geisha Latihan …

Kompas Video | | 23 September 2014 | 11:00


TRENDING ARTICLES

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 5 jam lalu

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 7 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 9 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Tanam Tanaman dan Bunga Plastik …

Gaganawati | 8 jam lalu

Berkah Sepak Bola Palestina di Tengah Perang …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Si Cantik Jelita …

Nidaul Haq | 8 jam lalu

Billboard, Sarana Sosialisasi Redam Gepeng …

Cucum Suminar | 8 jam lalu

Bisnis Sebenarnya untuk Memanusiakan Manusia …

Agung Soni | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: