Artikel

Unik

Bhayu

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Bhayu MH adalah rakyat biasa yang begitu mencintai Indonesia. Memiliki blog yang diupdate dengan tulisan berbeda tiap harinya di http://www.lifeschool.wordpress.com.

Angkot Terbakar di Jatiwaringin


REP | 05 November 2011 | 00:35 Dibaca: 117   Komentar: 4   Nihil

“Tumben, udah jam segini macet parah begini,” gumam saya dalam hati. Saya mengemudikan mobil dari arah Kalimalang menuju Pondok Gede dan terhenti lama menjelang jembatan tol Jatiwaringin. Posisi kemacetan yang tidak bergerak membuat saya mengirim SMS kepada 1717, layanan darurat kepolisian. Sebenarnya saya mengharapkan respon, kalau bisa malah penyebab kemacetan. Beberapa kali sebelumnya saat saya mengirim SMS petugas NTMC Polri memang menjawab, tapi kali ini tidak. Dan memang kebanyakan tidak sih… Jadi, saya tidak terlalu kecewa.

Terus terang saya heran kenapa sudah sekitar jam 22.30 WIB malam lalu lintas masih padat bahkan macet. Padahal biasanya tidak begitu. Saya menduga penyebab kemacetan adalah adanya acara di Asy-Syafi’iyah, mungkin berupa pengajian akbar. Saat melintasi jembatan, saya melihat jalan tol Jakarta-Cikampek yang terletak di bawah juga macet parah. Dugaan berubah menjadi padatnya kendaraan yang keluar dari tol tersebut menyebabkan macet. Maklum saja, jalanan pun menyempit di jembatan dari tiga jalur menjadi dua bahkan terkadang satu jalur. Belum lagi ada dua jalur yang keluar dari arah tol.

13204271601903486734
Macet di tol Jakarta-Cikampek (Foto: Bhayu MH)

Saya pun iseng membunuh bosan dan kantuk dengan memotret kemacetan, termasuk di jalan tol yang berada di bawah. Tapi cuma beberapa detik, saya kaget melihat ada nyala api beberapa meter di depan. Karena saya pernah menjadi fotografer dan wartawan lapangan serta berpengalaman meliput sejumlah peristiwa kerusuhan, naluri saya langsung bekerja. “Wah, ada yang nggak beres nih,” pikir saya. Maka, saya pun menyalakan kamera di mode video. Terlihat ada mobil yang terbakar di pinggir jalan. Tapi tentu saya tak bisa merekam lama karena mobil harus terus jalan.

Saya pun bimbang. Status saya kini bukan lagi wartawan aktif, melainkan blogger. Media “BERGERAK” yang saya pimpin pun belum diluncurkan. Namun naluri jurnalistik saya menggoda. Saya bimbang dan mobil yang saya kemudikan terus melaju membelah lalu-lintas yang lancar pasca melewati “bottle-neck” karena mobil terbakar tadi. Menjauhi TKP (Tempat Kejadian Perkara).

Sambil mengemudi saya terus berpikir, mencoba menduga apa penyebab kejadian tadi. Dengan jelas saya bisa mengidentifikasi mobil tersebut adalah angkot (angkutan kota). Saya pun menduga bahwa penyebabnya kemungkinan angkot itu dibakar massa karena menabrak seseorang. Akhirnya, karena berpikir ini penting untuk diberitakan, saya pun memarkir mobil sekitar 1 km dari TKP. Saya langsung terpikir akan mempostingnya di Kompasiana. Karena kuatir pada kemacetan, saya pun naik angkot ke TKP. Di dalam angkot, sopirnya sudah membicarakan kejadian tadi. Tapi informasinya simpang-siur. Mereka pun tak tahu pasti apa penyebab angkot terbakar dan bagaimana detail kejadiannya.

Ketika saya sampai di TKP, ternyata api di angkot tersebut sudah padam. Saya mencoba membaur santai dan bertanya sana-sini sekedar seperti orang ingin tahu saja. Mengingat status saya wartawan non-aktif, maka saya rasa tak perlu memperkenalkan diri sebagai wartawan.

Ternyata, penyebab angkot terbakar adalah korsleting listrik. Jadi, angkot itu “terbakar”, bukan “dibakar”. Angkot trayek K-22 bernomor polisi B 2787 YV (saya kurang yakin karena platnya kurang jelas disebabkan hangus) itu melaju dari arah Pondok Gede menuju Kali Malang. Namun tiba-tiba muncul api dan pengemudinya keluar dengan panik hingga mobil melaju ke arah berlawanan. Jalan yang memang tanpa pembatas itu kemudian menjadi macet karena mobil dari arah Kalimalang tempat saya datang tadi terhalang mobil yang terbakar.

Saat warga yang kebanyakan tampaknya justru rekan si sopir hendak menyingkirkan bangkai mobil ke trotoar, saya pun mengambil gambar. Di saat itulah seseorang yang tampaknya intel mendekati saya dan menginformasikan bahwa pengemudinya selamat dan tidak melarikan diri.

13204272771342605286
Warga berupaya meminggirkan bangkai angkot yang terbakar ke trotoar (Foto: Bhayu MH)

Saya kemudian mencari si pengemudi dan ternyata kebetulan seorang perwira polisi memanggilnya untuk dimintai keterangan. Maka, saya pun ikut di samping sang perwira untuk bicara dengannya. Ia pun memanggil seorang teman yang menemaninya sehingga kami bicara berempat. Pengemudi tersebut mengaku bernama Saroki, berusia sekitar 50-an tahun. Ia mengatakan akan pulang ke pool pemilik mobil sehingga tidak lagi mengangkut penumpang. Namun, di dalam angkot ia ditemani oleh seorang rekannya yaitu Cindaon (63 tahun). Saroki mengatakan ia panik saat melihat api muncul dari aki dan segera keluar kendaraan. Meski sudah bergegas, jaketnya sempat terbakar dan perut bagian kirinya pun terluka. Cindaon pun terluka bakar di tangannya namun tidak parah. Karena pengemudinya keluar, maka api dengan cepat membesar dan melahap seluruh badan mobil. Angkot itu pun melaju tanpa kendali ke jalur kendaraan arah berlawanan. Tentu saja hal itu menimbulkan kemacetan karena arus kendaraan terhenti.

Untungnya, di dekat TKP ada Pos Polisi sehingga petugas bisa cekatan bertindak. Api segera dipadamkan dengan bantuan warga. Lalu lintas pun bisa segera lancar sekitar pukul 23.00 WIB. Karena merasa sudah mendapatkan keterangan 5 W + 1 H, maka saya pun meninggalkan TKP.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: