Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Abanggeutanyo

Pengamat itu : Mengamati dan Diamati

Temajuk, Sepotong ‘Surga’ Antara Indonesia - Malaysia (Bagian I)

REP | 25 March 2012 | 15:38 Dibaca: 1505   Komentar: 15   0

13326884542009751473

Desa Temajok, 24 Maret 2012. Dokumen pribadi abanggeutanyo

Hampir enam bulan setelah merebaknya berita nasional yang sempat menganggu konsentrasi hubungan Indonesia - Malaysia akibat issue perubahan posisi perbatasan Indonesia (Okotober 2011), barulah kini penulis berksempatan berkunjung langsung ke Camar Bulan dan Desa Temajuk  (Indonesia) dan Teluk Malino (Malaysia).

Perjalanan yang menguras waktu dan tenaga itu memang harus benar-benar dipersiapkan dengan baik. Perjalanan dari Pontianak ke Sambas tepatnya ke pelabuhan Teluk Keramat memerlukan waktu 5 jam jalan darat. Dari Teluk Keramat perjalanan masih dapat ditempuh dengan mobil sejauh 70 kilometer sampai ke desa Ceremai. Dari Ceremai ke Temajo masih harus menempuh perjalanan sepanjang 50 kilometer lagi dengan kondisi jalan yang amat buruk.

Suasana dan kondisi jalan dari Teluk Keramat hingga ke Paloh, meskipun sempit masih dapat diandalkan. Suasana perekonomian dan aktifitas masyarakat terlihat sangat baik. Hal ini selain diakibatkan oleh sarana jalan yang memadai juga tersedianya saluran listrik, telepon dan perdagangan serta perkebunan yang dikelola secara intensif oleh warga.

Lepas dari Paloh ke desa Merbau, kondisi jalan mulai bermasalah, selain tambah sempit juga kondisinya penuh lubang dan berbatu. Kendaraan yang melintas dijalur ini didominasi oleh sepeda motor yang dipergunakan untuk sebagai moda transportasi utama, meskipun ada juga beberapa kendaraan roda empat pribadi dan truk roda empat.

Dari desa Merbau menuju ke desa Ceremai, jalanan yang tadinya sempit dan rusak semakin sempit dan hancur. Tidak ada kendaraan yang dapat melalui jalur ini kecuali milik proyek kontraktor pengerjaan jalan, itupun yang memiliki dua sumbu penggerak (dua gardan).

Kendaraan yang penulis gunakan atas kerjasama seseroang, terpaksa ditinggalkan dirumah penduduk setempat. Perjalanan diteruskan dengan sepeda motor. Dari desa Merbau ke desa Ceremai harus ditempuh dengan motor boat bermesin tempel. Ukuran boat maksimal mampu memuat 7 unit sepeda motor dan penumpangnya.

1332689273968033157

Perahu motor yang membawa penulis ke Ceremai, Sungai Belacan dan Temajuk. (gambar pribadi abanggeutanyo)

Kondisi perahu bermesin tempel itu jangan harap dapat tempat duduk dan pelampung, kita harus berdiri dan  duduk di atas motor masing-masing sambil berdoa agar tiba diseberang secepat mungkin.

Motor air yang penulis tumpangi itu ternyata bermasalah, di tengah sungai selebar hampir 2 kilometer itu mesinnya mati. Motor itu pun bergeser posisi pelan-pelan didorong arus sungai yang bergerak pelan ke kanan. Posisi air sungai sampai ke permukaan motor boat itu hanya 20 centimeter lagi. Syukurlah setelah beberapa kali dihidupkan motor bergerak kembali ke seberang.

Setelah tiba di seberang (desa Ceremai), perjalan diteruskan ke desa Temajuk. Perjalanan darat yang melelahkan itu harus ditempuh dalam waktu 5 jam. Kondisi jalan sepanjang 50 kilometer dari Ceremai ke Temajuk itu memang butuh waktu yang lama karena kondisi jalan beraneka ragam. Jalan berbatu dan berlubang itu sangat menyiksa pinggang. Sedangkan total panjang perjalanan seluruhnya mencapai hampir 500 kilometer dari Pontianak ke Temajuk.

13326886621992600493

Salah satu ruas jalan berpasir menuju desa Temajok

Pada Memang ada di ruas tertentu sedang pengerasan yaitu di desa Sungai Belacan hingga menjelang dusun Camar Bulan. Kondisi jalan pada ruas ini meskipun masih bertanah merah tapi lumayan bagus dan lebarnya mencapai 8 meter. Pembangunan jalan ini adalah hasil rembukan tiga menteri saat berkunjung ke Camar Bulan pada Januari 2012 lalu.

Tapi sayangnya, panjangnya hanya 10 kilometer saja sehingga setelah itu penulis kembali berjibaku dengan jalanan yang berpasir tebal dan berbatu. Beberapa kali terjatuh dari motor di atas jalanan penuh pasir itu namun tidak membuat surut semangat untuk melihat langsung Temajok dan Camar Bulan dari dekat.

Melewati desa Camar Bulan, penulis berkesempatan  singgah di sebuah warung. Di sini sambil melepas lelah dan menikmati suguhan air tebu dingin dan telur ayam kampung, penulis berkesempatan menanyakan pada dua warga tentang issue Camar Bulan beberapa waktu lalu.

Katanya, benar memang ada pergeseran itu. Akan tetapi bergesernya pato-patok itu bukan disengaja melainkan tergerus oleh air. Meskipun ia juga heran kenapa  baru diketahui saat ini bapak yang minta namanya dirahasiakan itu mengatakan bahwa mungkin karena adanya tuntutan perhatian dari pemerintah pusat.

Penulis melihat beberapa lokasi di wilayah Camar Bulan itu telah dipasangi tulisan Camar Bulan dan melihat beberapa personil dari intel koramil melakukan penyisiran ke posisi yang hanya berjarak satu kilometer dari jalan yang sempit itu.

Dari dusun Camar Bulan ke desa Temajuk kita seperti merasakan akhir sebuah jalan yang panjang. Seolah-olah jalannya sudah tak ada lagi. Kita seperti berada di tepian dunia. Tak jelas jalur mana yang harus dilalui dari semak-semak dan rawa itu.

133268894049288006

Salah satu sudut pemandangan di perbatasan Sungai Belacan dan Temajuk. Lihatlah di kejauhan pantai biru milik kita semua, terbengkalai. Sepi di tengah keramaian. (gambar dok pribadi abang)

Kita hanya mampu melihat bekas jejak sepeda motor lainnya yang pernah melintas. Dari jejak itulah kita melewati  bekas rawa-rawa yang kering ketika tidak hujan, terlihat kerak endapan lumpur menghitam di atas jalan itu. Kadang kepala harus diturunkan sedikit agar tidak terkena dahan pohon yang menjulur ke bawahnya.

Setelah itu barulah terlihat desa Temajuk. Kedatangan orang baru langsung diketahui oleh warga yang berpapasan, baik yang menggunakan sepeda, berjalan kaki dan sepeda motor, jika berpapasan mereka duluan yang tersenyum. Kondisi ini menyentuh perasaan penulis karena jarang bertemu dengan kondisi di abad modern seperti ini.

Ketika waktu menunjukkan pukul 15.30 penulis tiba di alun-alun desa. Warganya sangat ramah, mereka juga sangat antusias jika melihat desa mereka ramai, tak heran mereka memberi tahu dimana lokasi yang bisa penulis gunakan untuk istirahat. Di mana posisi kantor polisi dan bansos serta sekolah. Warga menunjukkan dan mengantarkan ke beberapa posisi, termasuk saat menuju ke perbatasan desa Temajuk dan Teluk Malino (Malaysia).

Di sebuah lokasi, penulis mendapat beberapa informasi tentang desa Temajuk, antara lain adalah :

  1. Desa Temajuk, tidak sama dengan pulau Temajo. Meskipun sama-sama berada di Kalbar tapi keduanya terpisah ratusan kilometer jauhnya. Pulau Temajo hanya sekitar 70 Kilometer dari Pontianak (dalam kabupaten Pontianak) sedangkan Temajuk adalah bagian desa dari Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas yang berbatasan langsung dengan Teluk Malino, Malaysia.
  2. Desa ini TIDAK memiliki sarana telepon dan listrik. Jika pun ada hanya listrik tenaga surya berkekuatan maksimum 300 watt, itu pun hanya puluhan warga memperolehnya. Jika warga mempunyai usaha nelayan dan kebun dan berpenghasilan lumayan, warga tersebut menyiapkan generator (genset) pribadi untuk rumah dan usahanya.
  3. Desa Temajuk, pernah memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Mikor Hidro (PLTMH) bantuan pemerintah daerah. Tenaga listrik ini menggunakan air sebagai penggerak genaratornya. Listrik ini diresmikan pada 10 Februari 2012. Entah apa pasalnya, papan sirkuit untuk mendistribusikan listrik ke luar gardu terbakar. Akibatnya listrik hanya sempat dinikmati sebulan oleh warga. Tepatnya pertengahan Maret 2012 pembangkit yang berbiaya 2,4 miliar bantuan pemda Sambas itu pun kolaps, tak bisa digunakan lagi sampai saat ini. Warga kembali larut dalam kegelapan.  Selain itu ada indikasi pemasangan instalasi yang tidak sesuai dengan spesifikasi di beberapa tempat, misalnya tidak terpasang anti petir di rumah warga sehingga menjadi sasaran empuk sambaran petir. Akibatnya, kini desa Temajuk kembal gelap gulita. Penerangan dan kegembiraan hanya dapat dinikmati selama satu bulan saja. Terpancar kekecewaan teramat dalam dari wajah warga.
  4. Desa Temajuk kini memiliki 500 KK dengan total penduduk sebanyak 1800-an jiwa. Sebagaian besar adalah petani dan nelayan. Di desa Temajuk, kita temukan tiga unit sekolah yang kondisinya menyedihkan karena selain tidak punya listrik juga kekurangan tenaga pengajar. Di sebuah sekolah kami mendapat informasi dari 8 guru yang ada 4 orangnya adalah tenaga honorer.
  5. Penulis lupa menanyakan luas des Temajuk, tapi menurut data luasnya mencapai 26.800 hektar. Secara geografis desa ini memang sangat eksotik dan menjanjikan. Lihatlah beberapa posisi gunung dan bukitnya yang menghadap ke laut. Posisi bukitnya yang menjadi dinding perbatasan dengan Malaysia itu masih segar. Beberapa warga meminta dibangunkan villa penginapan untuk wisatawan.
  6. Pantainya berpasir putih. Beberapa bongkahan batu besar dari berbagai jenis ditemukan di tepian laut dan beberapa diantara tergenang di dalam laut. Ukuran  batu sebesar lapangan volley bertebaran di mana-mana. Air laut yang terlihat biru dengan deruan ombak yang tenang meskipun air laut sedang pasang sangat menarik warga untuk menikmati acara mandi laut di desa ini.
  7. Sumber mata air juga terdapat di desa Temajuk. Sebuah pancuran air (air terjun) yang eksotik juga terdapat di sini. Hanya saja menuju ke sana memerlukan waktu 1 jam dari desa Temajuk dan melalui jalan sempit dan berliku menyusuri naik turun bukit.

Bagaimana suasana di desa perbatasan milik Malaysia? Rasanya seperti langit dan bumi saja. Beberapa hal yang membedakan itu akan diuraikan lebih lanjut pada tulisan yang akan datang, termasuk harapan apa saja yang diharapkan oleh masyarakat setempat serta apa saja yang telah dilakukan oleh mereka dalam mengembangkan daerahnya secara swadaya untuk melepaskan diri dari perasaan “Belum Merdeka” dan tidak terprovokasi dengan “keindahan” rumput tetangga.

Salam Kompasiana

abanggeutanyo

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Berburu Gaharu di Hutan Perbatasan …

Dodi Mawardi | | 29 November 2014 | 11:18

Jokowi Tegas Soal Ilegal Fishing, …

Sahroha Lumbanraja | | 29 November 2014 | 12:10

Menjadikan Produk Litbang Tuan Rumah di …

Ben Baharuddin Nur | | 29 November 2014 | 13:02

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak? …

Wahyu Indra Sukma | | 29 November 2014 | 05:44

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 5 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 8 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

SBY Mulai Iri Kepada Presiden Jokowi? …

Jimmy Haryanto | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Merespon Garuda …

Indra Sastrawat | 8 jam lalu

Festival Payung Indonesia Pertama, …

Indria Salim | 8 jam lalu

Bangun Indonesia dari Desa, Belajar dari …

Gapey Sandy | 8 jam lalu

Semurni Kasih Ibu …

Suci Handayani | 8 jam lalu

yang Muda ? Mbangun Desa!!! yang Tua? …

Kang Isrodin | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: