Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Andika

hanya orang biasa, bukan siapa siapa juga

Usaha Kuliner Rame Sebentar, Setelah Itu?

REP | 30 May 2012 | 23:01 Dibaca: 1534   Komentar: 8   0

Kata orang orang paling asyik buka usaha restoran atau rumah makan karena paling tidak, jika kurang laris makanan yang dijual, untungnya bisa buat makan harian yang dagang dan karyawannya, mossok seh?

Setelah kembali dari TKI Kuala Lumpur saya banyak  berselancar kemana mana  jika ada waktu wisata kuliner singgah lebih banyak le restoran atau rumah makan ala asli Indonesia ( melayu -lah ), lho kok dimana mana banyak restoran atau rumah makan yang dulunya ketika awal buka ramai dikunjungi sekarang tutup.

Ada juga yang saya baru tahu ada rumah makan itu ( terutama yang agak keluar kota Jakarta sedikit seperti bekasi , depok dan tangerang )  tampak jelas dulunya  rumah makan atau restoran itu pernah  ramai tetapi kemudian atau sekarang dalam keadaan mengenaskan antara hidup dan mati.

Buktinya pernah ramai pengunjung , seperti yang saya lihat tadi siang , dulunya restoran atau rumah makan itu pernah dikunjungi banyak orang termasuk beberapa pejabat bahkan beberapa menteri dari foto foto yang sengaja dipanjang di rumah makan itu.

Dan yang membuat masih kepingin tahu, ketika jalanan macet, pada waktu akan keluar dari tol dalam kota dari arah Cawang keluar menuju Semanggi.  Dulu disebelah kiri jalan  arteri ( lokasinya  satu bangunan sebelum Museum Satriamandala, tidak jauh dari Gedung Polda Metrojaya ) ada Cafe Semanggi yang luas dan banyak pengunjungnya itu di Jalan Gatot Subroto itu.  Jika saya tidak salah ingat ketika belum berangkat ke Kuala Lumpur tahun 2007  Cafe Semanggi itu masih buka, saya bersama keluarga masih makan di situ. Sebelumnya beberapa kali juga bersama keluarga dan teman teman makan disitu, banyak restoran pilihan yang cukup oke, diantaranya restoran padang dan jepang………lho kok  cafe itu sudah tutup bablass, malah sudah jadi belukar berpagar, ada yang tahu masalahnya?

Jika saya perhatikan rumah makan ala orang melayu terutama ( termasuk di malaysia ) mungkin saja sebab sebabnya tidak tahan lama adalah

  1. kurang memperhatikan pelanggan, mau makan ya, enggak juga enggak apa apa
  2. kurang lihai menata dan menyajikan makanan yang disediakan sehingga kurang menarik
  3. tidak ada contoh makanan yang dijual, kalaupun ada sering kali makanan yang disajikan tidak cocok dengan contoh yang ada di foto, bandingkan dengan makanan ala jepang, contoh yang dipajang dengan yang disajikan bisa sama persis, sampai berapa irisan daging dalam contoh dan cara meletaknnya di piring atau mangkok bisa sama persis, ya kan?
  4. kurang perhatian terhadap kebersihan ( malah ada yang sambil momong bayi ), banyak bekas makan yang tidak segera dibersihkan, lebih cenderung suka warna atau kedaan ( maaf sepertinya suka) kumel dan dekil karena itulah suasana pedesaan, salah ya?
  5. apa lagi ya…..silahkan ditambahkan jika masih ada.

Jika yang saya tulis itu tidak benar maafin ya, itu pandangan saya, bisa jadi saya yang tidak  benar dan kurang jalan jalan, atau tidak tahu persoalan.

Selamat sore, salam sukses dari Jakarta

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Malmö di Swedia: “Saudara” …

Cahayahati (acjp) | | 26 October 2014 | 10:02

Kenapa Harus Membela Ahok? …

Zulfikar Akbar | | 26 October 2014 | 09:55

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Staf Kepresidenan, Kekuasaan di Balik Tahta …

Mas Isharyanto | | 26 October 2014 | 10:42

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24



HIGHLIGHT

Marquez Pecahkan Rekor Doohan …

Suko Waspodo | 7 jam lalu

Menanti Tweet Pertama Presiden Jokowi …

Dody Kasman | 8 jam lalu

Tentara yang Berjuang di Atas Kursi Roda …

Dewilailypurnamasar... | 8 jam lalu

Air Terjun Bojongkoneng di Sentul …

G T | 8 jam lalu

Merangkum Keindahan Indonesia Lewat Kisah …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: