Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Syaifud Adidharta

Hidup Ini Hanya Satu Kali. Bisakah Kita Hidup Berbuat Indah Untuk Semua ?

Mitos “Ratu Kidul” Wanita Cantik Pesisir Selatan Pantai Pulau Jawa

REP | 22 October 2012 | 17:45 Dibaca: 15522   Komentar: 3   4

Mitor keberadaan Ratu Kidul atau Ratu Pantai Selatan Pulau Jawa hingga sampai sekarang baru hanya sebatas mitos dan kajian kepercayaan masyarakat Jawa yang kiat mengental kuat jauh dari syariat agama yang sebenarnya (ilustrasi: Syaifud Adidharta)

Mitor keberadaan Ratu Kidul atau Ratu Pantai Selatan Pulau Jawa hingga sampai sekarang baru hanya sebatas mitos dan kajian kepercayaan masyarakat Jawa yang kiat mengental kuat jauh dari syariat agama yang sebenarnya (ilustrasi: Syaifud Adidharta)

Apakah anda dan kita semua percaya dengan cerita Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian dari kita mungkin akan berkata, tidak !. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang hidup di masa zaman atau lingkungan keraton Yogyakarta. Mereka yakin dengan kebenaran cerita tersebut…

Sementara itu keberadaan Nyi Roro Kidul sebagai penguasa pantai selatan tidak bisa dilepaskan dari kerajaan Mataram. Bahkan saat Mataram terpecah menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta, mitos penguasa pantai selatan masih tumbuh subur di masyarakat pesisir selatan pulau Jawa.

Kuatnya keyakinan masyarakat bahwa pendiri kerajaan Mataram, yakni Panembahan Senapati, memiliki hubungan khusus dengan Nyi Roro Kidul membuat aura dan kewibawaan kerajaan ini senantiasa diliputi dimensi gaib. Tak hanya Panembahan Senopati, bahkan hubungan ‘istimewa’ ini terus berlanjut sampai ke keturunannya yang menjadi raja di Yogyakarta.

Dan kepercayaan terhadap adanya Ratu Kidul ternyata juga meluas sampai ke daerah Jawa Barat. Kita pasti pernah mendengar, bahwa ada sebuah kamar khusus (nomor 308) di lantai atas Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Ratu Kidul. Siapapun yang ingin bertemu dengan sang Ratu, bisa masuk ke ruangan ini, tapi harus melalui seorang perantara yang menyajikan persembahan buat sang Ratu. Pengkhususan kamar ini adalah salah satu simbol ‘gaib’ konon dipakai oleh mantan presiden Soekarno.

Selanjutnya tentang kepercayaan keberadaan Ratu Kidul tersebut diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan labuhan misalnya, sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahunSri Sultan Hamengkubuwono, menurut perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan masyarakat Yogyakarta.


Banyak versi cerita Ratu Kidul yang belum bisa dibuktikan dengan kondisi perkembangan zaman, namun mitos keberadaan Ratu Kidul di zaman ini hanya bisa menjadi bagian kekayaan budaya Nusantara yang indah (ilustrasi: kaskus.co.id)

Banyak versi cerita Ratu Kidul yang belum bisa dibuktikan dengan kondisi perkembangan zaman, namun mitos keberadaan Ratu Kidul di zaman ini hanya bisa menjadi bagian kekayaan budaya Nusantara yang indah (ilustrasi: kaskus.co.id)

Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semangyang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.

Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh pihak keraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena “diambil” oleh sang Ratu.

Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mitos Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini oleh saudara mereka, Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua keraton (Yogyakarta dan Surakarta)memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul. Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral di keraton, Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan hari penobatan para raja. Sembilan orang penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya sang Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan.

Menguatnya mitos Kanjeng Ratu Kidur menjadikan sebagian besar masyarakat pesisir laut selatan pulau Jawa yang masih tradisional,  mengangap laut selatan pulau Jawa adalah tempat menggantungkan hidup yang membawa kemakmuran bagi masyarakat pesisir selatan tersebut. Dari laut mereka mendapatkan makan dan menghidupi keluarga. Laut pun kemudian diperlakukan tidak sembarangan dan mereka percaya bahwa ada kekuatan besar yang berada di dasar laut.

Kekuatan tak kasat mata tersebut tidak sekadar menentukan besar sedikitnya hasil laut mereka, tetapi juga keselamatan. Kekuatan gaib tersebut kemudian diwujudkan dalam sosok Nyi Roro Kidul, sang penguasa pantai selatan.


Mitos masyarakat pesisir selatan pulau Jawa, Ratu Kidul adalah penguasa laut selatan pulau Jawa yang memiliki paras cantik dan bercahaya indah, menurut mitos Ratu Kidul selalu memilih suami-suaminya berbangsa manusia yang memiliki ketampanan, kekuasaan, dan memiliki banyak pengaruh di dunia (ilustrasi: Syaifud Adidharta)

Mitos masyarakat pesisir selatan pulau Jawa, Ratu Kidul adalah penguasa laut selatan pulau Jawa yang memiliki paras cantik dan bercahaya indah, menurut mitos Ratu Kidul selalu memilih suami-suaminya berbangsa manusia yang memiliki ketampanan, kekuasaan, dan memiliki banyak pengaruh di dunia (ilustrasi: Syaifud Adidharta)

Alhasil, mereka pun menyakini akan kekuatan dan keberadaan ratu pantai selatan. Inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk melegitimasi kekuasaan raja-raja Mataram.

Kisah Nyi Roro Kidul memang banyak ditulis para pujangga terdahulu, bahkan di Babad Tanah Jawi juga disinggung mengenai keberadaan putri yang selalu mengenakan baju hijau itu.

Dalam penjelasan Babad Tanah Jawi secara tegas menyiratkan bahwa Nyi Roro Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senapati bahwa akan menjaga kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Hal inilah yang membuat kepercayaan masyarakat di pesisir pantai selatan semakin kuat terhadap sosok Nyi Roro Kidul.

Sedangkan sampai sekarang asal-usul Nyi Roro Kidul hingga kini juga masih banyak versi dan diperdebatkan. Ada yang berpendapat bahwa Nyi Roro Kidul aslinya bernama Putri Kadita, Ratna Suwida, dan Dewi Nawang Wulan, tetapi kisahnya tidak jauh berbeda, yaitu seseorang putri raja yang mempunyai paras wajah cantik yang terkena penyakit guna-guna oleh saudara tirinya yang menginginkan tahta ayahnya. Pada akhirnya, dia dibuang oleh ayahnya lantaran penyakit yang dimiliki meresahkan dan menular.

Sedangkan menurut versi lain menyebut bahwa Nyi Roro Kidul adalah jelmaan dari salah satu tujuh bidadari. Tetapi, menurut tradisi yang dipegang kuat Mataram, Nyi Roro Kidul adalah seorang putri dari kerajaan Padjajaran yang telah diusir dari istana karena dia menolak suatu perkawinan yang diatur oleh ayahnya. Raja Padjajaran lalu mengutuk putrinya, sehingga akhirnya dia dijadikan ratu kaum roh halus dengan istananya di bawah perairan Samudera Hindia.

Benarkah ada makhluk bernama Nyi Roro Kidul sang penguasa laut pantai selatan? Atau hal tersebut hanya sebatas cerita yang dikarang untuk melegitimasi kekuasaan Panembahan Senapati dan keturunannya?

Namun akan tetapi sampai sekarang di masa modern ini, legenda kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan, adalah legenda yang paling spektakuler. Bahkan ketika anda membaca kisah ini, banyak orang dari Indonesia atau negara lain mengakui bahwa mereka telah bertemu ratu peri yang cantik mengenakan pakaian tradisional Jawa. Salah satu orang yang dikabarkan juga pernah menyaksikan secara langsung wujud sang Ratu adalah sang maestro pelukis Indonesia, (almarhum) Affandi. Pengalamannya itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah lukisan.

*****

Artikel dikaji dari berbagai sumber terkait (dbs)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wisata ke Perbatasan Surga dan Neraka di …

Taufikuieks | | 17 December 2014 | 11:24

Melahirkan Cesar Versi Saya dan Ashanty …

Mariam Umm | | 17 December 2014 | 13:39

Mau Operasi Kanker Tulang Kemaluan Atau …

Posma Siahaan | | 17 December 2014 | 19:17

The Hobbit: The Battle of the Five Armies …

Iman Yusuf | | 17 December 2014 | 21:02

Lima Edisi Klasik 16 Besar Liga Champions …

Choirul Huda | | 17 December 2014 | 21:54


TRENDING ARTICLES

Sadisnya Politik Busuk Masa Pilpres di …

Mawalu | 6 jam lalu

Kalah Judi Bola Fuad Sandera Siswi SD …

Dinda Pertiwi | 6 jam lalu

Mas Ninoy N Karundeng, Jangan Salahkan Motor …

Yayat | 7 jam lalu

Jiwa Nasionalis Menteri yang Satu Ini …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Hanya Butuh 22 Detik Produksi Sebuah Motor …

Ben Baharuddin Nur | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

7 Cara Ajaib! Memenangkan Lomba Vote di …

Giant Sugianto | 10 jam lalu

Aristan : Audit Dinas PU Sigi …

Geni Astika | 10 jam lalu

100 Hari Menuju Sakaratul Maut …

Ivone Dwiratna | 10 jam lalu

Dulu Soekarno Mengusir Penjajah, Sekarang …

Abdul Muis Syam | 10 jam lalu

Seniman, antara Profesi dalam Angan dan …

Suharyadi | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: