Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Merokok Haram di Masjidil Haram

HL | 25 October 2012 | 12:53 Dibaca: 2647   Komentar: 35   3

Sorang jamaah haji terlihat ragu-ragu mengeluarkan sebatang rokok dan pemantik api dari saku baju koko. Peristiwa ini seringkali ku saksikan di pemondokan haji kota Makkah. Tak terkecuali saat di mabit di Mina selepas wukuf di Arafah. Sayang seribu sayang … Entahlah … Apa mereka para perokok itu sebegitu tak tahannya menyingkirkan kebiasaan yang di tanah suci di haramkan. Tak percaya ?! Cobalah berjalan di pelataran masjidil Haram sisi pintu King Abdul Aziz dan tengoklah ke arah kiri : disana ada poster besar sekali bertuliskanSmoking kill 13.000 people a dayterpampang jelas di papan iklan larangan merokok di depan Masjidil Haram, Makkah.

13511434271414271360

(suamiku yang tidak merokok senang sekali berpose di depan papan iklan larangan merokok : kami berhaji tahun 2006. Apakah saat ini poster itu masih ada ?)

Gambarnya menunjukkan larangan merokok (namun aku tidak tahu apakah dilarang di sekitar Masjidil Haram atau di seluruh wilayah Makkah ?) Tanda gambar rokok yang berasap dicoret menurut penafsiranku adalah merokok haram. Bukan gambar rokok yang belum dinyalakan api, bisa jadi rokoknya tidak haram, he3 … Aku juga tidak faham bahasa Arab, namun mengerti tulisan berbahasa Inggris yang artinya : “Merokok Membunuh 13.000 Orang Setiap Hari”.

Entahlah ?! data tersebut valid atau tidak, aku lebih memilih mengungkapkan pengalamanku terpapar asap rokok saat kehamilan anak pertama pada tahun 1995. Sebagai arsitek, aku harus bekerja bersama para juru gambar (yang hampir sebagian besar perokok). Mereka merokok di ruang gambar sambil mengerjakan tugas-tugas dari arsitek. Tak terkecuali aku harus berada di ruang tersebut untuk memberikan tugas atau mengecek gambar dan memberikan arahan bila terjadi kekeliruan. Akibatnya … fatal! Aku menjadi seorang ibu hamil perokok pasif. Sedih sekali karena selama kehamilan aku mengalami batuk berkepanjangan sampai sakit perut gendutku terguncang-guncang. Dadaku juga sesak dan dahak sesekali berwarna kuning kehijauan.

Konsultasi ke dokter kandunganpun dilakukan tidak hanya memeriksakan kesehatan janin, namun kesehatanku juga butuh perhatian. Aku masih bersyukur ruang arsitek telah ditetapkan sebagai ruang bebas asap rokok. Aman dan nyaman. Atasanku memberi kelonggaran kepadaku agar tak terlalu sering masuk ke ruang gambar. Jadi juru gambarnya yang datang ke ruanganku. Di akhir kehamilan aku menjadi lebih sehat karena frekuensi terpapar asap rokok menjadi berkurang.

Bayi kecilku akhirnya lahir pada bulan Mei 1996. Aku agak heran ?! Semasa bayi anak pertamaku tak henti pilek dan batuk. Bahkan jika batuk bisa sampai keluar juga makanan dari lambung kecilnya. Dan ini awal perjuanganku menemani anak pertamaku yang ternyata terdeteksi kelainan paru-paru (asma dan bronkhitis akut). Walaupun dokter anak tak mengatakan secara pasti penyebab lemahnya paru-paru anakku, aku sedikit berkeyakinan saat masih janin anakku telah terpapar asap rokok. Kandungan zat berbahaya (mungkin juga mematikan) telah aku hirup berjam-jam,  selama sembilan bulan dan pasti juga masuk ke dalam tubuh janin di dalam kandunganku.

Sebuah pelajaran berharga : anakku (janinku) memang diberi umur oleh Allah SWT sampai hari ini. Tapi aku akan terus berjuang agar asap rokok dapat dienyahkan dari sekeliling perempuan terutama ibu hamil dan anak-anak.

Asap rokok juga dienyahkan dari tempat ibadah, sekolah, rumah sakit, kendaraan umum, pusat perbelanjaan, kantor, halte, dan rumah tempat tinggal kita. Bila ingin ber-asap rokok : silahkan pilih tempat yang tak mengganggu oranglain bahkan menyebarkan penyakit serta kematian kepada oranglain.

Alhamdulillah … Allah SWT telah memberikan kesembuhan kepada anakku. Olahraga renang dan makanan sehat membuat tubuhnya lebih kuat. Sesekali (biasanya pagi hari atau di tempat yang berpolusi) dia akan batuk-batuk atau mengeluarkan lendir. He3 … aku suka menggodanya dengan memberi hadiah segepok tissue. Yah … juga menghiburnya agar tak terlalu risau dengan kondisi paru-parunya.

Oya … saat aku menjadi pemimpin di sebuah akademi, aku membuat tata tertib tentang lingkungan kampus bebas asap rokok. Begitupun di LSM tempatku bekerja (sebagai wakil Direktur) aku tetapkan ruangan khusus untuk membuat asap rokok. Intinya melarang merokok mungkin belum berhasil, namun usaha melindungi orang-orang yang tidak merokok dari asap rokok adalah kewajiban bagi para pengambil kebijakan. Tentu tantangan dan hambatan selalu ada. Nikmati saja sebagai perjuangan mengisi kehidupan ini dengan kebaikan.Selamat hari tanpa asap rokok! (he3 … kalau daun tembakau saja tidak apa-apa asal tidak dibakar dan mengeluarkan asap). Titip pesan khusus untuk jamaah haji : stop merokok ya sepulang dari tanah suci …

Tags: sayaberhaji

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Kejutan Tingkah Polah Remaja di Lokasi …

Dhanang Dhave | | 22 December 2014 | 11:47

Rimba Beton dalam Labirin Kota …

Ratih Purnamasari | | 22 December 2014 | 11:25

Drama Proyek Jembatan Linggamas …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 12:32

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 11 jam lalu

Hari Ibu Selow Aja …

Ifani | 11 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 19 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 20 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: