Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Jejep Falahul Alam

Aku adalah seorang yang hobi mencari sesuatu yang baru. Dan selalu berusaha menjadi cahaya dalam selengkapnya

Tahun Baru Islam yang Dilupakan

OPINI | 13 November 2012 | 18:52 Dibaca: 3303   Komentar: 0   0

Aneh tapi nyata itulah kenyataanya. Sebagian besar umat Islam saat ini ini lebih mengetahui tahun baru Masehi (1 Januari), ketimbang tanggal 1 Muharram (bulan Hijriah) yang merupakan tahun baru umat Islam. Bahkan kalau ditanya urutan bulan masehi dengan bulan hijriah, lebih hapal bulan masehi. Tragis!!!

Lebih dari itu,  yang lebih menyesakan dada, pemahaman serta pola pikir mengenai tahun baru Islam ini, telah meracuni generasi umat Islam dewasa ini. Sehingga tidak terlalu berlebihan, ketika perayaan tahun baru Islam yang jatuh pada Kamis 15 November 2012 mendatang, sebagian besar umat Islam hanya berdiam diri dan tidak
melakukan sesuatu yang istimewa dalam perstiwa akbar tersebut.

Kondisi ini berbanding seratus delapan puluh derajat, bila dibandingkan ketika kedatangan tahun baru masehi. Ribuan bahkan jutaan umat manusia di seantoro dunia ini dibuat sibuk minta ampun, untuk memeriahkan pesta pora yang tidak jelas itu. Bahkan berbagai acara dan kegiatan pun turut memeriahkan kedatangan awal tahun itu
yang sifatnya materialistis dan hedonis. Konvoi kendaraan bermotor pada malam tahun baru Januari selalu membuat jalan raya padat merayap. Pesta kembang api dan berbagai konser musik, bahkan pesta esek-seks, mabuk-mabukan, dan berbagai kemaksiatan lainnya pun turut disuguhkan dan dinikmati pada satu malam tersebut.  Ironisnya lagi, yang terbuai  untuk melakukan hal itu ternyata umat Islam sendiri. Mereka telah dijejali berbagai macam virus yang telah merusak otaknya, untuk menyimpang dari ajaran Islam, untuk mengikuti ajaran ajakan setan yang terkutuk.

Lalu pertanyanya, apa yang dilakukan dalam menyambut tahun baru Hijriah ini? Padahal bila menengok sejarah masa lampau, tahun hijriah ini telah tercatat dalam sejarah tinta emas.  Historisnya, pada waktu itu Nabi Muhammad SAW tengah berhijrah dari kota Mekah ke Madinah untuk membangun kekuatan Islam. Di sinilah bisa
dikatakan titik awal kebangkitan umat Islam dalam menyebarkan agama ke seluruh pelosok penjuru dunia.  Karena bila ditelisik lebih mendalam, 1 Muharram merupakan awal untuk perubahan saat proses hijrah berlangsung. Hijrah  sendiri menurut etimologi artinya berpindah. Sedangkan menurut terminologi, mengandung dua makna, yakni hijrah makani dan hijrah maknawi. Hijrah makani bisa dikatakan hijrah secara fisik berpindahnya dari suatu tempat yang kurang baik menuju yang lebih baik. (dari negeri kafir menuju negeri Islam). Namun secara nonfisik hijrah mengandung makna, berpindah dari nilai yang buruk menuju nilai yang lebih baik.

Tepatnya dari kebathilan menuju kebenaran atau  dari moral bangsa yang buruk menuju bangsa yang bermoral.  Bahkan makna berpindah itu sendiri mempunyai makna yang besar. Ini bisa juga diartikan perubahan. Sebab bila prilaku sudah berubah menjadi baik, maka akan datang pertolongan dari Allah SWT, berupa kemuliaan dan kesuksesan dunia dan akherat. Maka bila dikaitkan dalam konteks berbangsa dan bernegara, perubahan amatlah penting. Termasuk seorang calon pemimpin yang berlaga dalam Pemilukada, hendaknya menjadi teladan dalam kehidupan masyarakatnya. Jadilah pemimpinan yang tegas, teguh, dan teladan. Seperti Nabi Muhammad dalam memimpin pemerintahannya. Posisinya beliau sebagai nabi maupun rasul, patut di contoh pemimpin-pemimpin sekarang. Sosok seorang pemimpin yang arif dan bijaksana dan tidak pernah banyak mengumbar janji.

Kembali lagi kepersoalan, di bagian lain juga kita sebagai kaum muslimin, patut bersyukur karena masih ada umat Islam masih yang tetap merayakan tahun baru Islam ini meski dalam bentuk yang sederhana. Seperti pawai obor, tabligh akbar, dan aktivitas kegiatan keagamaanya lainnya. Semoga prilaku semacam ini masih bisa dilestarikan dan dipertahankan, agar dunia ini masih terbentuk (belum kiamat). Dan sang fajar masih bisa menyinari alam jagat raya, dan cahaya bulan mampu menerangi alam semesta ini  Kesimpulannya, mari kita jadikan 1 Muharram ini, sebagai wahana untuk evaluasi diri.  Agar kita bisa memaknai makna 1 muharram ini bukan hanya sebatas ceremonial belaka, tetapi bisa menghayati lebih mendalam arti hijrah yang sesungguhnya. Semoga!  ****

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 8 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 9 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 11 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sikap Pabowo Terhadap Ahok & Bu Mega …

Kwee Minglie | 7 jam lalu

GP Singarpura, Hamilton Luar Biasa Rosberg …

Hery | 7 jam lalu

Menguak Misteri Gua Jepang di Malang …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Bahaya Bateri Bekas …

Pan Bhiandra | 8 jam lalu

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: