Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Zaenal Abidin

Orang Biasa yang ingin terus berkarya

Dalam Kentut Ada Filosofi Cinta

OPINI | 02 January 2013 | 20:16 Dibaca: 1227   Komentar: 0   1

13571325271717496715

foto: liveinbalikpapan.blogspot.com

Anda pernah mengentut?? Tentu saja setiap orang yang normal pasti pernah mengentut. Anda akan mengalami masalah ketika tidak bisa kentut. Tuhan menciptakan kentut dan melekatkannya bagi manusia tentu ada rahasia besar di dalamnya. Itu pasti. Sedikit mari kita lihat, kita pelajari kentut dan cinta. Adakah hubungan antara keduanya?? Mari kita coba gali bersama.

Cinta itu bagaikan kentut. Engkau akan merasa sakit saat engkau menahannya. Pun pula ketika engkau mengeluarkannya, engkau akan menyakiti orang di sekitarmu, bahkan terkadang dirimu sendiri merasa sakit karena kentut yang kau keluarkan tak engkau pikirkan akibatnya. Maka tulus dan ikhlaslah dalam mengentut. Jika itu yang kau lakukan, kentut yang kau keluarkan tak akan membuat marah orang lain, dirimu merasa lega, dan enak perutmu.

Seperti itulah cinta, tatkala engkau mencintai dengan tulus dan ikhlas maka yang ada hanyalah keindahan, kasih sayang dan kebahagiaan. Manusia tidak akan bisa hidup tanpa cinta, belajarlah mencintai dengan ketulusan. Kalau Anda mau Anda bisa belajar pada kentut. Pahamilah filosofi kentut.

Kentut sering kali disepelekan orang, bahkan ketika ada orang yang mendengar kentut sering kali yang keluar dari mulutnya adalah hujatan dan umpatan, hidungnya ditutup kemudian mensupah serapahi orang yang kentut. Hemmm…tak pernah berpikirkah mereka kalau mereka tidak bisa mengeluarkan kentut.

Jutaan rupiah dan bahkan uang sebesar apapun akan mereka keluarkan demi sebuah suara ces dan pretnya kentut. Tapi manusia memang manusia, baru sadar ketika mereka tak bisa lagi kentut. Kesadaran inilah yang mahal harganya.

Kentut memang kasihan dia. Peranannya yang besar bagi metabolisme tuubuh manusia seringkali disepelekan dan dipandang tak ada gunanya oleh manusia dikarenakan bau dan tempat keluarnya yang dalam pandangan manusia berada di dubur.

Memang dalam sejarah belum pernah dijumpai ada kentut beraroma wangi. Semua manusia tahu itu. Tapi tetap saja ketika kentut keluar dari dubur salah seorang manusia siapa pun dia, disadari atau tidak sering kita acuhkan atau bahkan kita umpat dengan umpatan yang tidak sepantasnya. Apalagi jika yang mengeluarkan kentut itu adalah orang miskin atau mereka yang dianggap, tak punya kedudukan.

Hemmmm… kentut adalah anugerah. Ia adalah angin yang keluar sebagai hasil dari metabolisme tubuh yang sudah tidak lagi diperlukan oleh tubuh. Ia akan menjadi masalah atau penyakit manakala tetap berada di dalam perut dan tidak dikeluarkan.

Untuk itu mengentutlah selagi Anda masih bisa mengentut, tapi tentu saja dengan mengentut yang beradab dan bertatakrama agar kentut Anda tidak menyakiti orang lain. Itulah bukti bahwa Anda menyuskuri anugerah kentut.

Tebarkanlah cinta kepada siapa saja selagi Anda masih bisa mencintai. Tapi tentu saja cinta yang beradab dan bertatakrama, agar cinta Anda sebagaimana kentut tidak menyakiti orang lain. Itulah cinta sejati.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 10 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 13 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 14 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kompasianer dan Tantangannya (ke Depan) …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Dimanakah Guru Tanpa Tanda Jasa Itu Kini? …

Trisni Atmawati | 8 jam lalu

Menulislah dengan Ketulusan …

Banyumas Maya | 8 jam lalu

Wow, Ternyata Salah Konstitusi!!! …

Azis Nizar | 8 jam lalu

Politik Vs Media, yang Menang …

Eka Putra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: