Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Zaenal Abidin

Orang Biasa yang ingin terus berkarya

Dalam Kentut Ada Filosofi Cinta

OPINI | 02 January 2013 | 20:16 Dibaca: 1210   Komentar: 0   1

13571325271717496715

foto: liveinbalikpapan.blogspot.com

Anda pernah mengentut?? Tentu saja setiap orang yang normal pasti pernah mengentut. Anda akan mengalami masalah ketika tidak bisa kentut. Tuhan menciptakan kentut dan melekatkannya bagi manusia tentu ada rahasia besar di dalamnya. Itu pasti. Sedikit mari kita lihat, kita pelajari kentut dan cinta. Adakah hubungan antara keduanya?? Mari kita coba gali bersama.

Cinta itu bagaikan kentut. Engkau akan merasa sakit saat engkau menahannya. Pun pula ketika engkau mengeluarkannya, engkau akan menyakiti orang di sekitarmu, bahkan terkadang dirimu sendiri merasa sakit karena kentut yang kau keluarkan tak engkau pikirkan akibatnya. Maka tulus dan ikhlaslah dalam mengentut. Jika itu yang kau lakukan, kentut yang kau keluarkan tak akan membuat marah orang lain, dirimu merasa lega, dan enak perutmu.

Seperti itulah cinta, tatkala engkau mencintai dengan tulus dan ikhlas maka yang ada hanyalah keindahan, kasih sayang dan kebahagiaan. Manusia tidak akan bisa hidup tanpa cinta, belajarlah mencintai dengan ketulusan. Kalau Anda mau Anda bisa belajar pada kentut. Pahamilah filosofi kentut.

Kentut sering kali disepelekan orang, bahkan ketika ada orang yang mendengar kentut sering kali yang keluar dari mulutnya adalah hujatan dan umpatan, hidungnya ditutup kemudian mensupah serapahi orang yang kentut. Hemmm…tak pernah berpikirkah mereka kalau mereka tidak bisa mengeluarkan kentut.

Jutaan rupiah dan bahkan uang sebesar apapun akan mereka keluarkan demi sebuah suara ces dan pretnya kentut. Tapi manusia memang manusia, baru sadar ketika mereka tak bisa lagi kentut. Kesadaran inilah yang mahal harganya.

Kentut memang kasihan dia. Peranannya yang besar bagi metabolisme tuubuh manusia seringkali disepelekan dan dipandang tak ada gunanya oleh manusia dikarenakan bau dan tempat keluarnya yang dalam pandangan manusia berada di dubur.

Memang dalam sejarah belum pernah dijumpai ada kentut beraroma wangi. Semua manusia tahu itu. Tapi tetap saja ketika kentut keluar dari dubur salah seorang manusia siapa pun dia, disadari atau tidak sering kita acuhkan atau bahkan kita umpat dengan umpatan yang tidak sepantasnya. Apalagi jika yang mengeluarkan kentut itu adalah orang miskin atau mereka yang dianggap, tak punya kedudukan.

Hemmmm… kentut adalah anugerah. Ia adalah angin yang keluar sebagai hasil dari metabolisme tubuh yang sudah tidak lagi diperlukan oleh tubuh. Ia akan menjadi masalah atau penyakit manakala tetap berada di dalam perut dan tidak dikeluarkan.

Untuk itu mengentutlah selagi Anda masih bisa mengentut, tapi tentu saja dengan mengentut yang beradab dan bertatakrama agar kentut Anda tidak menyakiti orang lain. Itulah bukti bahwa Anda menyuskuri anugerah kentut.

Tebarkanlah cinta kepada siapa saja selagi Anda masih bisa mencintai. Tapi tentu saja cinta yang beradab dan bertatakrama, agar cinta Anda sebagaimana kentut tidak menyakiti orang lain. Itulah cinta sejati.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kunonya Rekapitulasi Pilpres, Kalah Canggih …

Ferly Norman | | 22 July 2014 | 07:48

Cara Mudah Kenali Pelaku Olshop yang …

Ella Zulaeha | | 22 July 2014 | 11:59

Kompasiana-Bank Indonesia Blog Competition …

Kompasiana | | 27 June 2014 | 16:59

Siku Sudut Unik Candi Dadi Tulungagung …

Siwi Sang | | 22 July 2014 | 12:11

Bukan Dengkuran Biasa …

Andreas Prasadja | | 22 July 2014 | 10:45


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 6 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 7 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 7 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 7 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: