Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Zaenal Abidin

Orang Biasa yang ingin terus berkarya

Dalam Kentut Ada Filosofi Cinta

OPINI | 02 January 2013 | 20:16 Dibaca: 1222   Komentar: 0   1

13571325271717496715

foto: liveinbalikpapan.blogspot.com

Anda pernah mengentut?? Tentu saja setiap orang yang normal pasti pernah mengentut. Anda akan mengalami masalah ketika tidak bisa kentut. Tuhan menciptakan kentut dan melekatkannya bagi manusia tentu ada rahasia besar di dalamnya. Itu pasti. Sedikit mari kita lihat, kita pelajari kentut dan cinta. Adakah hubungan antara keduanya?? Mari kita coba gali bersama.

Cinta itu bagaikan kentut. Engkau akan merasa sakit saat engkau menahannya. Pun pula ketika engkau mengeluarkannya, engkau akan menyakiti orang di sekitarmu, bahkan terkadang dirimu sendiri merasa sakit karena kentut yang kau keluarkan tak engkau pikirkan akibatnya. Maka tulus dan ikhlaslah dalam mengentut. Jika itu yang kau lakukan, kentut yang kau keluarkan tak akan membuat marah orang lain, dirimu merasa lega, dan enak perutmu.

Seperti itulah cinta, tatkala engkau mencintai dengan tulus dan ikhlas maka yang ada hanyalah keindahan, kasih sayang dan kebahagiaan. Manusia tidak akan bisa hidup tanpa cinta, belajarlah mencintai dengan ketulusan. Kalau Anda mau Anda bisa belajar pada kentut. Pahamilah filosofi kentut.

Kentut sering kali disepelekan orang, bahkan ketika ada orang yang mendengar kentut sering kali yang keluar dari mulutnya adalah hujatan dan umpatan, hidungnya ditutup kemudian mensupah serapahi orang yang kentut. Hemmm…tak pernah berpikirkah mereka kalau mereka tidak bisa mengeluarkan kentut.

Jutaan rupiah dan bahkan uang sebesar apapun akan mereka keluarkan demi sebuah suara ces dan pretnya kentut. Tapi manusia memang manusia, baru sadar ketika mereka tak bisa lagi kentut. Kesadaran inilah yang mahal harganya.

Kentut memang kasihan dia. Peranannya yang besar bagi metabolisme tuubuh manusia seringkali disepelekan dan dipandang tak ada gunanya oleh manusia dikarenakan bau dan tempat keluarnya yang dalam pandangan manusia berada di dubur.

Memang dalam sejarah belum pernah dijumpai ada kentut beraroma wangi. Semua manusia tahu itu. Tapi tetap saja ketika kentut keluar dari dubur salah seorang manusia siapa pun dia, disadari atau tidak sering kita acuhkan atau bahkan kita umpat dengan umpatan yang tidak sepantasnya. Apalagi jika yang mengeluarkan kentut itu adalah orang miskin atau mereka yang dianggap, tak punya kedudukan.

Hemmmm… kentut adalah anugerah. Ia adalah angin yang keluar sebagai hasil dari metabolisme tubuh yang sudah tidak lagi diperlukan oleh tubuh. Ia akan menjadi masalah atau penyakit manakala tetap berada di dalam perut dan tidak dikeluarkan.

Untuk itu mengentutlah selagi Anda masih bisa mengentut, tapi tentu saja dengan mengentut yang beradab dan bertatakrama agar kentut Anda tidak menyakiti orang lain. Itulah bukti bahwa Anda menyuskuri anugerah kentut.

Tebarkanlah cinta kepada siapa saja selagi Anda masih bisa mencintai. Tapi tentu saja cinta yang beradab dan bertatakrama, agar cinta Anda sebagaimana kentut tidak menyakiti orang lain. Itulah cinta sejati.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Rupiah Tiada Cacat …

Loved | | 17 October 2014 | 17:37

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Ketika Rintik Hujan Itu Turun di Kampung …

Asep Rizal | | 21 October 2014 | 22:56

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Dari Body Mulus, Sampai Bibir Sexy …

Seneng | 6 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 13 jam lalu

Jamberoo itu Beda Total dengan Jambore …

Roselina Tjiptadina... | 14 jam lalu

Anda Tidak Percaya Alien, Maka Anda Sombong …

Zulkifli Taher | 14 jam lalu

Anfield Crowd, Faktor X Liverpool Meredam …

Achmad Suwefi | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Berlari itu Menginspirasi …

Hanni | 7 jam lalu

Diari Santri: #15 Perak Laju …

Syrosmien | 8 jam lalu

Misteri Kartu di Mandala …

Aksa Hariri | 8 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 8 jam lalu

Ledakan Permintaan Jasa Rumah Sakit …

Petra Sembilan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: