Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Tarusan Kamang, Keunikan Alam Ranah Minang

HL | 28 January 2013 | 21:04 Dibaca: 2791   Komentar: 32   19

Penulis ingin menceritakan kepada pembaca semua, tentang sebuah keajaiban alam semesta di daerah penulis yang barangkali tidak dimiliki oleh daerah lain. Keajaiban alam karunia terbesar Tuhan untuk masyarakat daerah kami. Nama kampungnya adalah Tarusan Kamang, lebih kurang 10  km dari kampung penulis Nagari Salo, Kecamatan Baso. Tarusan Kamang ini terletak di kaki bukit Barisan dalam daerah dua jorong yaitu jorong Bukik Babukik dan Halalang, Kanagarian Kamang Mudiak, Kecamatan Kamang Magek.

Bila kita berangkat dari Bukittinggi, Tarusan Kamang ini jaraknya lebih kurang 17 km atau 15 menit dengan membawa kendaraan bermotor. Letaknya sebelah utara Kota Bukittinggi, dari Jalan Raya Bukittinggi-Payakumbuh kita berbelok ke kiri di Simpang Limau, kemudian lurus saja lebih kurang 11 km, ketika sampai di Simpang Tigo Koto Panjang, kita kembali belok kiri lebih kurang 800 m kita akan sampai di Pakan Sinayan, disana kita belok kanan, lurus saja lebih kurang setelah menempuh jarak 3  km lah kita sampai di Tarusan kamang ini. Nah, apa yang akan kita dapati disana?

Jika kita pergi pada musim kering atau kemarau ,  kita akan mendapati padang savana yang luas dengan pemandangan yang membuat decak kagum. Di padang rumput yang luas itu kita akan melihat banyak ternak kerbau dan sapi lepas bebas menikmati rumput-rumput yang hijau ranum dan segar, dilain pojok kita akan mendapati anak-anak yang sedang berkejaran bermain bola, layang-layang dan sebagainya.  Hembusan angin yang dingin sepoi dari pegunungan akan menyejukkan tubuh kita dan membuat kita lupa bahwa musim itu adalah musim kering.

Gambar. Tarusan Kamang musim kering

Namun jika kita pergi pada musim hujan atau musim biasa (kadang hujan kadang panas hehe) ,  Nah kita akan menemukan di lokasi yang sama sebuah danau yang sangat indah. Kita akan melihat  muda-mudi bermain rakit, memancing, dan aktivitas di air yang sangat menyenangkan. Andapun bisa mencobanya. Di bagian cekung terdalam danau ini hanya sepinggang orang dewasa, sehingga aman untuk orang yang tidak pandai berenang sekalipun.  Kala sore menjelang perpaduan warna jingga mentari dan hijaunya danau akan membuat kita betah duduk berlama-lama bersama pasangan kita di pinggir danau “jadi-jadian” tersebut.

Gambar. Tarusan Kamang pada musim penghujan

Pada musim air mengenang ini, padang rumput yang hijau yang terjaga sendiri keindahannya tanpa adanya banyak campur tangan masyarakat memotong atau merapikannya tetaplah ada disekeliling danau. Dipadang rumput itu kita bisa berkumpul bersama keluarga untuk menikmati ketenangan danau Tarusan Kamang tersebut. Melepas lelah sejenak bersama teman-teman dipinggir danau ini sambil bercerita dan bercanda tentu akan akan sangat menyenangkan.

Gambar. Perpaduan padang rumput dan danau Tarusan kamang.

Nah, keajaiban alam di Tarusan Kamang ini sudah berlangsung sejak dulu kala. Menurut cerita orang tua-tua setempat sebelum tahun 1970-an , ketika hutan-hutan di bukit barisan masih terpelihara, Air Tarusan Kamang ini bisa tergenang selama 4 sampai 5 tahun. Tidak tergandung musim kemarau atau musim kering. Ikan-ikannya sangat banyak. Apalagi pada zaman itu pemerintahan nagari memberlakukan sistim larangan, dengan memasang bendera putih di pohon beringin yang berada ditengah-tengah tarusan atau danau tersebut. Apabila air telah menyusut dan sudah sejajar dengan batang baringin tersebut maka bendera putih dicabut atau tanda larangan dicabut. Dengan begitu maka masyarakat baru dibolehkan menangkap ikan, baik laki-laki atau perempuan, baik dewasa maupun anak -anak tumpah ruah dengan berbagai macam peralatan menangkap ikan, berton-ton ikan bisa didapat pada masa itu.

Gambar. Pesona Tarusan Kamang ditempat yang sama dengan dua musim berbeda

Pesona Tarusan kamang hingga kini masih mempesona. Walau masa tergenangnya air dan jumlah ikannya sudah tidak lagi seperti dulu. Sekarang ini kata masyarakat setempat lama tergenangnya air atau menjadi danau kadang tidak sampai setahun atau kadang mengikuti musim. sistem larangan pun sudah tidak diberlakukan lagi, akibatnya baru saja menjadi danau masyarakat sudah menangkap ikan-ikannya sampai tak bersisa. Ikan terkecilpun disapu bersih tanpa menunggu besar dan berkembang dulu. “Abih tandeh” bahasa minangnya.

KeunikanTarusan kamang ini yaitu padang rumput yang bisa berubah menjadi danau dan berubah lagi menjadi padang rumput ini  dan begitu seterusnya, menurut cerita masyarakat disini adalah  karena adanya “pupukan” atau lubang-lubang dicelah batu di dasar danau tempat muncul dan menghilangnya air yang kemungkinan dibawahnya ada semacam tarusan atau jalan air yang berasal dari bukit barisan yang mengelilingi kampung tarusan kamang tersebut.

Gambar. Pupukan atau Aia Luluih di dasar Tarusan kamang

Begitulah sedikit keunikan alam Ranah Minang khususnya Tarusan kamang.  Keunikan yang membawa berkah yang sangat luar biasa dari Allah SWT pada masyarakat tarusan kamang.  Ohya  jika pembaca bertanya dari mana ikan-ikan di danau itu berasal? bukankah sebelum air nya muncul dan menjadi danau tempat tersebut hanyalah padang rumput semata? Jawabnya adalah ikan-ikan itu berasal dari  “tabek” atau kolam ikan milik masyarakat disekitar padang rumput atau danau tersebut, nah ketika tarusan itu tergenang mendadak ( Menurut cerita sore masih  kering, besok paginya sudah tergenang saja airnya seperti danau), maka kolam-kolam itu akan direndam dan ikan-ikan dalam kolam itu tentu tidak terselamatkan dan berbaur menjadi ikan danau, ikan yang ada macam-macam ada ikan rayo, ikan nila, puyu, udang, paweh, mujair dan yang paling populer adalah munculnya ikan pantau yang diperkirakan berasal dari lubuak “kolam” yang terpusat di pupukannya. Uniknya lagi, Ikan pantau ini hanya ada di tarusan kamang ini saja. Dan semua ikan-ikan itu bebas siapa yang mau mengambil tanpa ada yang melarang  walau kita tidak ikut menyumbang “kolam” yang direndam danau tersebut. hehehe….

Salam Sasaka! (Sasaka = Sanak Sakampuang)

Sumber foto. Erison J. Kambari dan Ajmal Hadi



 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Kejutan Tingkah Polah Remaja di Lokasi …

Dhanang Dhave | | 22 December 2014 | 11:47

Rimba Beton dalam Labirin Kota …

Ratih Purnamasari | | 22 December 2014 | 11:25

Drama Proyek Jembatan Linggamas …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 12:32

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 12 jam lalu

Hari Ibu Selow Aja …

Ifani | 12 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 20 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 20 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: