Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Dewi Sumardi

IRT dan tinggal di Baku, Azerbaijan. Menulis untuk berbagi manfaat. #Buku Let's Learn English Alphabethical selengkapnya

Ular di Dalam Rumah, Dibunuh atau Tidak?

OPINI | 02 March 2013 | 14:15 Dibaca: 28679   Komentar: 33   1

13622077951939464289

salah satu jenis ular

Sumber gambar : http://www.malimsonline.com/wp-content/uploads/2011/11/grass_snake1.jpg
Ular bagiku adalah binatang yang paling menjijikkan dan menakutkan. Bentuknya yang panjang, meliuk-liuk, belum lagi membayangkan kulitnya yang bersisik dan dingin… Hiiiii… Ular dengan segala macam bentuk dan ukurannya, semua membuat aku begidik. Jaman dulu waktu kecil aku paling suka bermain dengan teman-temanku di sawah mencari yuyu ( kepiting sawah). Sering kami iseng memasukkan batu kecil ke dalam lobang yang kami temukan di pinggir -pinggir pematang sawah karena terkadang yuyu suka bersembunyi di situ. Tapi terkadang bukan yuyu yang kami dapatkan, melainkan kepala ular yang nongol dari dalam lubang itu. Jadilah kami lari tunggang langgang dibuatnya.

Dalam agama islam ada larangan membunuh ‘awamir rumah atau ular-ular penghuni rumah karena boleh jadi ular itu adalah jin-muslim. Jika terlihat ular di dalam rumah, maka diberitahu selama tiga hari dan menghalaunya dengan mengatakan: “Engkau berada dalam kesulitan!” Bila ular itu tidak pergi atau muncul lagi setelah itu, maka bunuhlah karena ia adalah syaitan yang kafir. Rasulullah saw bersabda, “Janganlah membunuh ular penghuni rumah kecuali ular yang pendek ekornya dan mempunyai dua garis putih yang ada di punggung ular tersebut karena ia dapat menggugurkan kandungan dan membutakan mata. Bunuh-lah ular itu “. (HR Bukhari). Aku pernah membaca, ada yang berpendapat bahwa larangan ini hanya berlaku untuk kota Madinah, tapi ada pendapat lain lagi larangan itu berlaku untuk semuanya. Terus terang aku kurang faham soal ini, mungkin ada pembaca Kompasiana yang bisa lebih memberikan pencerahannya.

Aku tidak begitu mengenal jenis-jenis ular, yang paling aku hafal hanya ular cobra ( ingat meliuk-liuknya karena seruling India… He he), ular phyton dan ular yang fenomenal dari sungai Amazon, Anaconda yang sosoknya bisa kita lihat di film Anaconda (apakah memang sebesar itu atau hanya fiksi belaka, gak tahu juga). Refleks yang sering dilakukan kebanyakan orang ketika melihat ular adalah cari pentungan atau balok kayu buat memukul ular itu. Saking panik dan ketakutan, biasanya pengennya langsung membunuh itu ular, mau ular kecil ataupun ular besar, mau berbisa atau tidak. Aku ingat jaman dulu ketika kecil ada kepercayaan kalau membunuh ular harus dibakar karena katanya bisa hidup lagi ketika ekornya bertemu dengan kepalanya. Cerita-cerita yang timbul akibat membunuh ularpun banyak dijumpai di masyarat, seperti anak yang cacat atau meninggal karena suami membunuh ular di saat istrinya hamil, ada juga yang menjadi hilang ingatan setelah membunuh ular. Di daerah asal suamiku ada lagi kepercayaan, kalau membunuh ular akan pindah rumah. Apakah benar itu akibat dari pembunuhan yang dilakukan, entahlah… Tapi percaya tidak percaya, aku pernah memelihara beberapa ekor kucing ketika di Bekasi dulu. Pernah suatu hari ketika kami pulang dari bepergian, kami melihat di depan pintu rumah ada bangkai ular tergeletak. Sementara di sampingnya berdiri ”pasukan” kucing mengitari. Kami tidak tahu bagaimana proses pembunuhan itu terjadi, tapi mungkin ular itu akan masuk ke rumah dan digigit oleh kucing kami.

Pengalamanku tentang ular yang paling ”mengerikan” buatku adalah ketika kami tinggal di Srilanka. Kebetulan kami menyewa rumah yang halamannya memanjang, jadi rumah yang kami tempati sedikit menjorok ke dalam. Dan halaman rumah itu ditumbuhi oleh rumput-rumput hijau. Kebetulan ”owner” rumah kami, tinggal tepat di sebelah. Rumah berlantai dua yang kami tempati dengan pohon yang tumbuh di depan rumah sebenarnya cukup asri. Di dalam rumah dibuat juga kolam ikan yang letaknya tepat di depan ruang tamu. Germercik suara airnya menambah suasana rumah menjadi indah.

Tapi siapa yang menyangka dan menduga ternyata banyak sekali ular yang berkeliaran di sekitar rumah dan halaman kami. Pengalaman pertama bertemu ular waktu pembantu rumahku membersihkan halaman , ular tersebut tiba-tiba muncul dari sebuah lubang, berlenggak lenggok memamerkan tubuh panjangnya. Berteriaklah pembantuku melihat ular belang coklat yang kemudian menghilang itu. Keterangan dari ”owner” rumah kami, ada seekor ular yang memang tinggal di dekat kolam ikan di depan rumahnya dan ular itu akan ”bermain-main” ke sebelah ( yang artinya di rumah yang aku tempati)… Bermain-main??? Waduhhh bocah kali yaaa… Yang kedua, suamiku ”hampir” saja menginjak ular ketika menyusuri halaman menuju rumahku. Untung saja ular yang berwarna hijau kekuningan tersebut tidak terinjak, kebayang khan kekagetan ular yang diinjak pasti akan diakhiri dengan sebuah gigitan. Yang ketiga dan cukup membuatku heran dan takjub dengan ‘’sepak terjang” ular di sekitar rumah kami adalah ketika pembantu rumahku yang sedang membukakan gerbang pagar rumah tiba-tiba berteriak karena merasa memegang sesuatu yang dingin dan licin. Kebetulan penerangan lampu di halaman rumah memang sangat minim. Dan ternyata dia memegang ular yang merayap di pintu gerbang….

Untuk mencegah ular mendekati kami, aku juga membeli garam berkilo-kilo untuk disebarkan di sekitar rumah. Aku ingat ketika aktif pramuka semasa SD, kalau lagi ada acara kemah bersama pasti membawa garam dan ijuk untuk ”membentengi” tenda dari ular yang kemungkinan ada di sekitarnya agar tidak masuk ke dalam tenda. Tapi rupaya cara itu kurang manjur juga aku terapkan di rumah yang aku tempati di Srilanka karena masih banyak lagi cerita ”pertemuan” ular di halaman rumah kami. Yang bikin aku begidik kalau ingat adalah ketika suatu hari aku sedang duduk di ruang tamu, tiba-tiba aku melihat ular ada di dekat kolam ikan. Kagetttt bangetttt, karena berarti ular itu ada di dalam area rumahku. Baru aku bergerak mendekat, ular itu lari dengan sangat cepat dan aku tak tahu lagi dia ke mana. Kami sibuk dibuatnya, karena ketidaktahuan kami dia lari ke mana menyebabkan kami was-was, jangan-jangan dia ada di sini, jangan-jangan dia ada di situ. Seputaran ruangan di dekat kolam ikan kami ubek-ubek, tapi tak juga ular itu kami temukan. Sampai akhirnya kami menyerah, kami anggap ular itu sudah keluar.

Beberapa hari kemudian kami semua pergi berbelanja. Ketika sampai di rumah, aku bermaksud mengambil pakaian yang sudah diseterika di kamar pembantuku. Pintu kamar aku buka, dan lagi-lagi aku kagetttt dibuatnya, di lantai di depanku, ada yang sedang mendongakkan kepalanya sambil menatapku, Astaghfirullah.. Ular cobra. Cepat-cepat aku tutup lagi pintu kamar pembantuku dan aku berteriak-teriak memanggil suamiku. Pertama-tama kami meminta bantuan sopir three wheels ( bajaj) yang nongkrong di depan rumah kami. Bukannya membantu, sopir itu malah ketakutan naik ke atas meja melihat sosok ular cobra yang sebetulnya tidak terlalu besar itu. Akhirnya suami meminta tolong pembantu rumah tangga sang ”owner” atau pemilik rumah kami. Datanglah si Uncle ( demikian kami memanggilnya), tapi bukan membawa pentungan panjang untuk memukul, si pembantu itu membawa semacam bambu panjang yang ujungnya dililit kain yang disiram minyak tanah. Haaahhh buat apa itu??? Ternyata alat itu digunakan untuk ”mengusir” ular bukan memukul apalagi membunuhnya. Di Srilanka yang mayoritas beragama buddha dan kental dengan ajaran reinkarnasi memang melarang untuk membunuh semua makhluk hidup : yang tidak berkaki, berkaki dua maupun berkaki empat. Itulah mungkin mengapa populasi ular lumayan banyak juga di Srilanka. Setelah berbagai macam cara digunakan, kejar sana kejar sini akhirnya entah bagaimana caranya, ular itu bisa dimasukkan ke dalam karung dan dibawa pergi dari rumah kami. Aku yang pertama kali melihat ular itu masih saja terbengong-bengong dan bertanya kapan ular itu masuk ke dalam kamar pembantuku? Apakah itu ular yang sama dengan yang aku lihat di dekat kolam ikan beberapa hari sebelumnya? Kalau iya, berarti ular itu lari ke kamar pembantuku dan selama hampir seminggu berarti pembantuku tidur dengan ular itu… Hiiii… bulu kudukku berdiri kembali membayangkannya…
Salam kompasiana..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 3 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 4 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 5 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 6 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

ATM Susu …

Gaganawati | 7 jam lalu

Perjamuan Akhir di Bali …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 8 jam lalu

Gayatri Dwi Wailissa, Anggota BIN yang Gugur …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: