Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Andika

hanya orang biasa, bukan siapa siapa juga

Kelakuan Gila Pengemudi Jakarta

HL | 08 April 2013 | 22:37 Dibaca: 1668   Komentar: 0   0

13654757841174738394

Kelakuan Gila Pengemudi Jakarta

Tadi pagi saya ada kerja di sekitar Pasar Baru Jakarta Pusat, dari rumah di Jakarta Timur saya masuk ke Jalan Pemuda Rawamangun, Jalan Salemba , Senen, belok ke Pasar Baru. Ternyata dari rumah yang jaraknya cuma kurang lebih hanya 25 KM itu ditempuh dalam waktu lebih dari 90 menit. Jalan yang saya tempuh ini tidak rutin , hanya beberapa kali saja jika ada perlu sebagai jalan alternatif, karena bisa  lebih cepat jika dibandingkan lewat jalan tol Gatot Subroto, Semanggi, Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin trus ke Pecenongan, Pasar Baru.

Di jalanan yang macet antara pukul 6 sd pukul 7.30 pagi itu  tadi tampak jelas kelakuan gila para pengemudi Jakarta, seperti dapat dilihat dalam foto foto yang saya ambil sambil sabar menikmati kemacetan lalu lintas sepanjng perjalanan itu dari Rawamangun sampai Senen, kemudian ketika sorenya saya balik rumah, melewati jalan disebelah Musium Gajah dari Jalan Abdul Muis, putar masuk Jalan Merdeka Barat, kemudian  Jalan Thamrin dan seterusnya.

Di sepanjang jalan itu ternyata orang ramai tidak perduli dengan rambu rambu lalu lintas, lajur Busway yang sudah dipasang palang perlintasan, dijaga petugas dan polisi, sama sekali tidak diperdulikan, hanya beberapa sentimeter saja dari palang penutupan lajur Busway banyak kendaran sudah melintas masuk ke lajur Busway sehingga menghambat laju Bus Transjakarta karena di depan dan dibelakangnya penuh dengan kendaraan yang masuk ke lajur jalan yang diperuntukkan bagi bus TransJakarta itu, gila.

Di jalan yang bersebelahan dengan  Musium Gajah  dan Kominfo, jalan pendek sekitar 50 an meter saja , jalan satu arah yang menghubungkan antara Jalan Abdul Muis dan Jalan Merdeka Barat, dua sisi jalan itu banyak kendaraan yang parkir seenaknya saja, walaupun di sepanjang jalan itu dipasang cukup banyak rambu rambu lalu lintas “larangan berhenti “, apa lagi untuk parkir. Jadi bagaimana dong, apanya dong, siapa dulu dong, apa apanya dong, dang ding dong, kata Mbakyu Titiek Puspa dalam nyanyiannya berjudul ” Apa apanya dong ” yang top banget disekitar tahun delapan puluhan itu, apanya dong dang ding dong!

1365434430860860772

13654344961703651394

baru beberapa senti dari palang sudah tak perduli

13654345511540773863

asyik ajja

1365434588949823882

penuhi lajur buswadepan belakang bus transjakarta penuh

1365437022871333820

depan belakang bus transjakarta penuh

1365434722957902409

separataor sudah ditinggikan juga tak perduli, emangnya gwa pikirin

13654347861746085031

parkir juga seenaknya, tidak perduli,….mau parkir dimana mas, kalau tidak boleh?

Yo wesslah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Taufik Mihardja dalam Sepenggal Kenangan …

Pepih Nugraha | | 27 August 2014 | 22:34

Ini yang Harus Dilakukan Kalau BBM Naik …

Pical Gadi | | 27 August 2014 | 14:55

Cinta dalam Kereta (Love in The Train) …

Y.airy | | 26 August 2014 | 20:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Hilangnya Acara Budaya Lokal di Televisi …

Sahroha Lumbanraja | 4 jam lalu

Lamborghini Anggota Dewan Ternyata Bodong …

Ifani | 5 jam lalu

Cara Mudah Latih Diri Agar Selalu Berpikiran …

Tjiptadinata Effend... | 6 jam lalu

3 Kebebasan di K yang Buat Saya Awet Muda …

Hendrik Riyanto | 7 jam lalu

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: