Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Gustaaf Kusno

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a selengkapnya

Apa Bahasa Inggris ‘Jendela Nako’ dan ‘Kaca Riben’?

OPINI | 30 June 2013 | 13:30 Dibaca: 2698   Komentar: 56   26

Menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia sudah cukup sulit, namun lebih sulit lagi menerjemahkan istilah Indonesia ke bahasa Inggris. Pasalnya, banyak istilah Indonesia yang vernacular (semata-mata dipakai orang kita saja), sehingga tak jarang padanannya tak dapat kita temukan pada kamus dwi-bahasa. Contohnya, bagaimana cara mengatakan ‘jendela nako’ atau ‘kaca riben’ kepada lawan bicara kita yang hanya bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris?

Dalam bahasa Inggris ‘jendela nako’ dinamakan dengan ‘louvre window’ (di negara Inggris) atau ‘jalousie window’ (di negara Amerika). Salah satu produsen louvre window yang sudah berkiprah sejak 1947 adalah N.V. Appleton & Co (yang disingkat dengan NACO). Pada tahun 1960an louvre window ini sudah diekspor ke 65 negara. Dalam perjalanan sejarahnya merek ini sudah beberapa kali mengalami pergantian nama dan kepemilikan dan tahun 2001 berganti nama menjadi Breezway.

Namun nama ‘naco’ tetap melekat pada ingatan kita, sehingga sampai kini kita menyebutnya dengan ‘jendela nako’. Menarik juga untuk diketahui, bahwa di negeri jiran Malaysia, dia dinamakan dengan ‘tingkap nako’ (tingkap = jendela). Jendela nako berwujud bilah-bilah kaca yang disusun pada rangka aluminium dan diberi tuas sehingga dapat dibuka dan ditutup. Kaca yang dipakai bisa kaca bening atau pun kaca riben (kaca gelap).

Dalam bahasa Inggris ‘kaca riben’ ini dinamakan dengan ‘tinted glass’. Lantas mengapa kita menyebutnya dengan ’kaca riben’? Rupa-rupanya sebutan ’riben’ ini mengambil dari kata ’Ray-Ban’ yaitu nama merek kacamata gelap (sunglasses) yang terkenal di dunia. Kacamata Ray-Ban sudah diproduksi semenjak 1937 di bawah perusahaan kacamata Bausch & Lomb. Awal mula sejarahnya, kacamata ini didesain untuk para pilot yang mengalami kesilauan (glare) pada saat menerbangkan pesawat. Nama Ray-Ban ini pun berasimilasi ke bahasa kita menjadi ’riben’ dan akhirnya segala jenis kaca yang tak tembus cahaya kita namakan dengan ’kaca riben’.

Di Malaysia, dia tak dinamakan dengan ’kaca riben’, namun disebut dengan ’cermin gelap’. Menarik bagaimana bahasa Melayu mengaplikasikan kata ’cermin’ ini. Istilah ’kacamata’ di Malaysia disebut dengan ’cermin mata’, ’sunglasses’ di sana disebut dengan ’cermin mata gelap’. Lantas apa sebutan ’mirror’ dalam bahasa Melayu? Ternyata ’cermin’ juga. Mungkin kita harus ’bersyukur’ bahwa dalam bahasa kita ada pembedaan antara ’kaca’ (glass) dan ’cermin’ (mirror).

Bahasa memang tak ada batasannya dalam melahirkan istilah-istilah baru yang amat kreatif, termasuk mengadopsi nama merek NACO dan Ray-Ban menjadi ’nako’ dan ’riben’. Sungguh menakjubkan manakala kita baru mengetahui sejarah kelahiran kata-kata ini.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jalan-Jalan Cantik ke Jepang ala Beauty …

Wardah Fajri | | 18 September 2014 | 10:16

Bapak Diberi Tenggang Tiga Kali 24 Jam untuk …

Posma Siahaan | | 18 September 2014 | 06:03

Bima Arya Sukses Menghijaukan Jalanan Kota …

Masykur A. Baddal | | 18 September 2014 | 07:20

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | | 18 September 2014 | 01:35

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14



HIGHLIGHT

Lolos CPNS Tanpa Sogokan …

Asri . | 8 jam lalu

Jokowi, PDIP, dan SBY Demokrat …

Forro Chandra | 8 jam lalu

Meningkatkan Guru Anak Usia Dini Lebih …

Heny Darwis | 8 jam lalu

Reformator… Jangan Pernah Lengah Mengawal …

Sjahrir Hannanu | 8 jam lalu

Akhirnya …

Rudi Kurniawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: