Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Kusuma Hartana

santri di salah satu pesantren di Jombang Jawa Timur

Bangun Monumen Sumpah Pemuda

REP | 13 September 2013 | 09:58    Dibaca: 216   Komentar: 0   0

Hari Sumpah Pemuda, hari yang sangat bersejarah sebagai tonggak kebangkitan nasional yang melahirkan kemerdekaan bangsa Indonesia pada peringatan ke-85 tahun 2013 ini bakal ditasyakuri oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (Opshid) dengan cara membangun monumen Sumpah Pemuda yang cukup fenomenal. Pembangunan ini akan dimulai 15 September 2013 besok dengan peletakan batu pertama.

Jika pada umumnya kita tak jarang melihat peringatan Hari Sumpah Pemuda dengan menggelar demontrasi dan tuntutan demi tuntutan, setidaknya kali kita akan melihat selompok organisasi pemuda yang justru sibuk “membantu” pemerintah dan mengabdi kepada ibu pertiwi. Sekalipun kita sadar negeri ini dalam keadaaan sakit, tapi justru kita tidak boleh membenci tapi harus mencintai.

“Proses pembangunan monumen Sumpah Pemuda ini diperkirakan melibatkan 700 lebih pemuda-pemudi dari 50 kabupaten/kota di Indonesia. Dari segenap panitia, relawan pembangunan, juru masak, arsitek hingga seniman. Dijadwalkan pada 15 September 2013  akan bersama-sama memulai pembangunan dengan peletakan batu pertama secara resmi dan terpadu,” aku Rizqy Hikmawan panitia seksi publikasi.   “Ditargetkan dalam tempo 40 hari, dengan perjuangan yang total, tepat pada 28 Oktober 2013 monumen Sumpah Pemuda sudah berdiri seluruhnya,” tandas pemuda asal Surabaya ini.

Model bangunan monumen cukup unik, tapi sarat akan makna dan manfaat, tidak seperti umumnya monumen yang kita kenal selama ini. Bukan berbentuk patung, menara, gapuro, teks sejarah atau simbol-simbol lainnya yang hanya dipajang saja. Monunen Sumpah Pemuda ini didesain berwujud rumah yang layak untuk di tempati dengan nama Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah (RLHS). Dengan luas rata-rata 5×7 meter, berdinding beton bertulang, berlantai keramik, dihiasi ornamen-ornamen yang artistik, dilengkapi dengan tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan kamar mandi.   Sebuah monumen yang tak hanya  sedap dipandang mata, tapi juga berfungsi sebagai tempat tinggal yang dipersembahkan bagi saudara-saudara dhu’afa (rakyat miskin). Dan biaya pembangunan monumen ini murni dari keringat dan tangan Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah, tanpa meminta bantuan dari pihak luar manapun, termasuk pemerintah.

Sejatinya pembangunan monumen Sumpah Pemuda ini sudah diawali sejak tahun 2010 lalu. Dan semua proses berjalan atas petunjuk Almukarrom Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah selaku Guru Besar Opshid. Kini sudah berdiri sejumlah 101 monumen yang tersebar di 30 kabupaten/kota se-Indonesia. Namun, khusus pada tahun 2013 ini dibangun lagi di Kota Bojonegoro, Lamongan dan Tuban sejumlah 30 monumen.

“Jika setiap tahun pada hari Sumpah Pemuda Opshid berhasil membangun puluhan monumen Sumpah Pemuda yang berupa RLHS, maka puluhan tahun kemudian pasti akan berdiri ribuan monumen Sumpah Pemuda. Hal ini tentu akan menjadi kemanfaatan yang lestari sekaligus kenangan abadi.  Inilah wujud syukur atas cinta tanah air Indonesia yang utuh dari Organisasi Pemuda Shididiqiyyah dalam  konsep manunggalnya keimanan dan kemanusiaan di Hari Sumpah Pemuda,” punkas Rizqy*


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Antara FIFA dan Mimpi Buruk PSSI ? …

Hery | | 30 May 2015 | 09:57

Memaknai Keterbatasan …

Syifa Ann | | 30 May 2015 | 01:59

[Blog Competition] Selfie Moment …

Kompasiana | | 18 May 2015 | 17:04

Dodit Mulyanto dan Kontradiksi Fans …

Andi Kurniawan | | 29 May 2015 | 16:08

Bagikan Cerita Pengalaman Bersepedamu dan …

Kompasiana | | 29 May 2015 | 13:55


TRENDING ARTICLES

Gagasan Khilaf Khilafah …

Iqbal Kholidi | 5 jam lalu

Salah Membaca Gestur, Calon Doktor Itu …

Muhammad Armand | 6 jam lalu

Berkat Jokowi Rakyat Indonesia Semakin Kuat …

Stefanus Toni A.k.a... | 7 jam lalu

Jika Ibu Kota Dipindah ke Palangka Raya! …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Buku Kontroversial: Akulah Istri Teroris …

Muthiah Alhasany | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: