Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Istri Sah Para Koruptor Menangis, Istri Simpanan Menari

REP | 21 October 2013 | 21:48 Dibaca: 216   Komentar: 0   1

Sel penjara kini banyak dihuni oleh para pejabat yang tertangkap melakukan perampokan uang negara, mereka berbeda dengan perampok atau pencuri pada umumnya. Bedanya, pejabat yang ditangkap karena kasus perampokan tidak melakukan perampokan karena hartanya tidak cukup untuk menghidupinya serta keluarga. Memang benarlah kata orang “andai segalanya bisa diubah menjadi uang, manusia tidak akan pernah berkata cukup”. Sedangkan pencuri dan perampok biasa, mereka melakukan pencurian karena tidak ada pekerjaan, dan uang untuk makan, sehingga mereka mencuri.

Maka tinggallah kemewahan yang selama ini dikejar dengan kerja keras mulai dari kuliah, hingga menduduki jabatan penting dengan gaji tidak sedikit, hanya karena ketidakmampuan menahan diri untuk memperkaya diri yang sebenarnya sudah kaya. Tidak ada lagi yang bisa disesali, nasi sudah menjadi bubur. Kekayaan tinggal membisu, membatu di rumah tak bisa dinikmati.

Kesedihan pun kian mendalam karena anak dan istri turut menanggung malu, tidak bisa menikmati harta yang ditinggal oleh suami dan ayah tercinta. Nyatanya uang bisa membeli mobil mewah, tapi uang tidak bisa membeli nikmatnya perjalanan, uang bisa membeli rumah mewah, tapi uang tidak bisa membeli rasa nyaman, nyatanya uang bisa membeli makanan enak, tapi uang tidak bisa membeli selera makan.

Maka berkunjunglah istri-istri para pejabat koruptor ke penjara, saling menyapa diantara mereka yang senasib namun tidak sepenanggungan, malu sendiri saling berpandangan dengan sesama istri koruptor, kasihan. Mereka menangisi sang suami tercinta karena rindu suasana bersama, iba mendengar anak-anak bertanya polos “ayah kapan pulang?”, kesepian ketika malam merebahkan diri sendirian. Paling menyakitkan lagi seperti kebiasaan kaum wanita, menangis sendirian sambil memeluk-meluk bantal.

Ironisnya, di balik tangis duka, rindu, iba istri sah para koruptor, di sana istri-istri simpanan menari dan bersiul menikmati kekayaan yang diberikan suami orang. Tidak mau tahu derita mantan, yang penting kenikmatan sudah terbayarkan. Ketika berpesta ria dulunya merekalah kekasih pujaan, namun kini setelah berduka mereka menghilang, istri sah menjadi kekasih sependeritaan, kasihan. Inilah yang tidak disadari oleh para pejabat hidung belang, bahwa mereka akan ditinggalkan oleh simpanan ketika masalah datang, yang akan tetap menjadi istri mereka adalah istri sah yang ada di rumah. Apalah hendak dikata, suami sudah terlanjur diikuti rakus kuasa, rakus uang, rakus nafsu, penderitaan ditanggunglah sendiri oleh istri dan anak-anak.

Secara pribadi saya merasa kasihan membayangkan istri dan anak-anak para koruptor ada di rumah merindukan sosok ayah, entah rasa kasihan ini layak saya tidak tahu. Dan di saat yang sama merasa jijik mengingat wanita-wanita simpanan para pejabat, dan di saat yang sama juga merasa sangat benci dengan koruptor karena selain mmerugikan negara, juga menyiksa anak dan istri, serta mempermainkan banyak wanita. Semoga hal ini menjadi pelajaran bagi kaum pria yang mapan dan juga pejabat-pejabat lain yang masih bersih, dan wanita-wanita Indonesia agar tidak mau menjadi simpanan. Salam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 9 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Menuju Organisasi Advokat Muda yang …

Valerian Libert Wan... | 7 jam lalu

Semoga Jokowi-JK yang Membuka Indonesia …

Bambang Trim | 7 jam lalu

Dialog Sunyi dari Hati ke Hati dengan Gus …

Puji Anto | 7 jam lalu

Satu Lagi Atlet Muslim Yang Di …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Eksposisi, Argumentasi, Deskripsi, Narasi, …

Sigit Setyawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: