Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Rm Zulkipli

Ada Negara, baru ada Rumah..

Arti Kunjungan Presiden ke Gunung Padang

OPINI | 24 February 2014 | 16:53 Dibaca: 3   Komentar: 0   0

*Soeyanto
 
Apa arti kedatangan Presiden ke gunung Padang? Di tengah begitu banyak hal yang perlu mendapat perhatian seorang Kepala Negara, bagi masyarakat awam bisa saja kunjungan ini menimbulkan banyak pertanyaan. 
Setelah bencana erupsi gunung Sinabung dan gunung Kelud yang juga mendapat perhatian serius dengan kunjungannya, apakah kedatangan Presiden ke gunung Padang malah diartikan menjadi sebuah rangkaian “tetirah spiritual”?
Kita bisa mengartikan macam-macam dan bahkan bisa meloncat terlalu jauh menafsirkan sebuah kunjungan seorang Presiden ke situs yang lebih banyak dikenal sebagai tempat tetirahan masa lalu ini. 
Namun yang jelas, ada 3 hal sekaligus yang akan menjadi perhatian Presiden atas kunjungan ke gunung Padang:
1. Mengonfirmasi keberhasilan pelaksanaan program-program kerakyatan yang dijalankan di wilayah tersebut, 
2. Mengecek operasionalisasi KA Siliwangi yang baru saja dibuka untuk melayani rute Cianjur-Sukabumi, dan 
3. Melihat langsung di lapangan terkait hasil riset yang dilakukan oleh publik (Tim Terpadu Riset Mandiri – TTRM).
Untuk poin pertama dan kedua, adalah hal lumrah dalam setiap kunjungan kepresidenan untuk melihat hasil-hasil program pembangunan kesejahteraan dan peningkatan infrastruktur. 
Justru yang paling menarik dari kunjungan Presiden kali ini adalah appresiasi seorang Kepala Negara terhadap inisiatif penelitian yang dilakukan oleh TTRM atas sebuah situs yang ditengarai mengandung obyek material yang berusia lebih dari 4.000 tahun sebelum masehi.
Terlepas dari kontroversi yang melingkupi wacana seputar keberadaan material berharga di gunung Padang, baru kali inilah seorang Presiden mengunjungi suatu situs arkeologi yang tengah dalam proses penelitian. Presiden memang pernah berkunjung ke Borobudur, Trowulan dan lain-lain tetapi kesemuanya itu telah memasuki tahap penelitian yang final dan baku. Namun untuk gunung Padang, meski dari perspektif metodologi ilmiah posisi hasil riset telah sesuai hipotesis, pembuktian untuk kaum awam perlu dilakukan lebih lanjut dengan melakukan sejumlah eskavasi.  
Kedatangan Presiden ini mudah-mudahan dapat terus menjaga momentum kelanjutan riset yang telah digagas sejak 3 tahun lalu. Bukan hanya dari perspektif langkah-langkah eskavasi yang perlu dilakukan tetapi juga bagaimana kedatangan Presiden ini dapat memberi inspirasi bagi kalangan peneliti untuk lebih kukuh pada profesi mereka.
Juga perlu dilakukan sejumlah terbosan agar geliat penelitian di kampus-kampus menjadi semarak. Kini dirasakan bahwa apresiasi atas kegiatan-kegiatan penelitian di kampus semakin meredup. Padahal ukuran kualitas sebuah universitas adalah seberapa serius riset-riset yang berskala doktoral atau pasca doktoral yang mereka lakukan.
Untuk menuju kebanggaan mutu pada universitas-universitas di Indonesia melalui keseriusan mereka menggarap penelitian-penelitian berskala doktoral atau pasca doktoral , tentu perlu juga didukung ketersediaan dana yang diberikan oleh pemerintah. Namun sepertinya kini justru anggaran yang tersedia untuk riset masih banyak yang belum terserap. Dikeluhkan para dosen bahwa kendalanya lebih banyak dari sisi birokrasi berupa rumitnya sistem pelaporan kegiatan penelitian.
Padahal seharusnya sekali proposal disetujui, dana yang dikucurkan untuk menopang kegiatan penelitian itu menjadi hak mutlak si peneliti. Pertanggungjawaban peneliti hanyalah pada hasil riset dan bentuk laporan hasil riset yang ditulis secara ilmiah.
Peneliti tidak lagi harus dibebankan kewajiban-kewajiban pelaporan yang bersifat administratif non akademik. 
Bila seorang peneliti menyimpang dalam penggunaaan anggaran, hukuman yang diberikan seharusnya  adalah berupa tertutupmya peluang bagi dirinya untuk kembali mendapat dukungan dana penelitian yang berimbas pada kredibilitas akademiknya. Koridor-koridor semacam inilah yang diterapkan di negara-negara maju sehingga mutu pendidikan mereka berada pada tinggi dalam skala internasional.
Jadi jika kita menilik masih terbelenggunya para peneliti pada tataran birokrasi, artinya masih jauh harapan kita untuk melihat secara signifkan peningkatan kualitas universitas-universitas di Indonesia. 
Apa yang ditunjukkan oleh TTRM pada keteguhan mereka meneliti di gunung Padang, sebuah inisiatif publik, dapat menghentak dunia akademik kita untuk segera berbedah dalam mengapresiasi segala sikap-sikap ilmiah yang tidak lagi terkukung pada persoalan-persoalan non-akademik (baca:birokrasi). 
Sesungguhnya inilah hikmah terbesar yang bisa dipetik pada kunjungan Presiden ke gunung Padang. 
*) PNS, Periset & Konsultan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 9 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 13 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 14 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 15 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: