
"Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya" → peternak puyuh di desa di Gunung Kidul DIY Hadiningrat yang sedang belajar menulis →
Dibaca: 594
Komentar: 8
1 dari 1 Kompasianer menilai menarik
Ternyata ada juga yang berpikir tidak mau bekerja, dengan alasan tidak mau terikat waktu. Entah itu bekerja menjadi pegawai negeri, maupun karyawan swasta. Bisa santai, katanya.
Selanjutnya memilih membuka usaha, walaupun kecil-kecilan. Pertimbangannya lebih baik jadi kepala burung emprit daripada jadi kuku garuda. Hidup lebih bebas, suka-suka, menentukan apa yang dimaui. Waktu bisa diatur sendiri.
Tapi hal seperti itu tidak bisa diterapkan dalam usaha beternak puyuh petelur.
Karena dalam beternak puyuh, tidak ada istilah hari libur untuk santai dan berleha-leha. Sekalipun hari lebaran, kerja jalan terus. Memangnya mau bikin burung puyuhnya kelaparan?
Di saat semuanya sedang dalam suasana meriah berlebaran. Peternak puyuh harus memikirkan ternaknya di kandang. Perut piaraan tidak mengenal libur lebaran. Dan peternak puyuh sebagai pelayan, tidak mungkin bisa ingkar dari pekerjaan. Bila terbuai lebaran, dan puyuh tidak diberi makan minum alias tidak diurus. Bisa fatal akibatnya. Mending kalau sekedar macet produksi telur. Kalau sampai dihinggapi penyakit karena kondisi tidak fit. Opo tumon. Kehancuran di depan mata. Iya kalau masih bisa tertolong. Kalau tidak bisa?
Akan sia-sia semua jerih payah dan perawatan. Hasilnya bisa nol besar, bahkan bisa minus.
Bagi peminat budidaya puyuh petelur. Pertimbangkan masak-masak terlebih dahulu. Apakah bersedia bekerja tanpa hari libur, termasuk libur lebaran?
Itu risiko. Jangan hanya memikirkan hasil.
Sama saja dengan lebaran kali ini. Semenjak beternak puyuh, tidak bisa lagi pergi ke rumah saudara berhari-hari. Bahkan pergi dalam waktu sehari penuh pun, sudah tidak memungkinkan lagi.
[Karena itu sangat penting sekali menjalin hubungan erat dengan teman peternak lain. Agar jika ada hal darurat yang mengharuskan pergi dalam waktu hitungan hari, piaraan puyuh bisa dititipkan.]
Karyawan?
Oh, itu suatu hal yang diinginkan. Sayangnya masih sebatas angan-angan. Permodalan, perhitungan pemasukan dan pengeluaran, dihitung-hitung belum berani mencari karyawan yang mapan. Memang ada saudara yang membantu. Tapi kelasnya masih kadang-kadang.
Kecuali untuk pembersihan kotoran seminggu sekali, musti mencari tenaga dari luar. Karena pembersihan memang berat, dan saya tidak mampu.
Semenjak beternak puyuh, lebaran tetap meriah. Namun bagaimanapun juga, tidak bisa semeriah dulu sebelum beternak puyuh.
Tidak bisa lagi berlebaran di kota Pekalongan tempat nenek tinggal di sana. Menikmati indahnya perjalanan. Menyibak kebun teh dan segarnya alam Plantungan. Atau berhenti sejenak di Parakan. Mungkin juga duduk-duduk di depan Masjid Temanggung. Dan sebelumnya, merasakan hiruk pikuk lalu lintas Jogja-Magelang sampai Secang.
(Untuk kakek, mohon maaf, beberapa lama si cucu beternak puyuh, sampai belum sempat berziarah ke Sepuro.)
Ada untungnya juga nenek pindah ke Jogja. Sehingga cucunya yang peternak puyuh, tidak susah menimbang-nimbang: antara menunda silaturahmi, atau darurat pergi dan menyerahkan burung puyuhnya pada teman dalam beberapa hari.
Barangkali jadi sepercik keprihatinan, memeriahkan lebaran dengan keterbatasan waktu dan kesempatan.
Walaupun terpikir juga, masih banyak saudara-saudara yang lain dalam berlebaran, masih didera keprihatinan, dengan lebih banyak keterbatasan dan sempitnya kesempatan.
Begitulah sedikit cerita dari peternak puyuh, yang tidak liburan, sekalipun itu hari lebaran. Apa perlunya saja, lantas kembali ke kandang.
Unik kan?